JawaPos.com - Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan skenario mitigasi jika terjadi hujan lebat yang menyebabkan banjir, pada saat hari pemungutan suara hari ini, Rabu (27/11). Sebagaimana diketahui Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta mencatat terdapat 572 TPS rawan banjir yang berada di Jakarta.
Penjabat (Pj) Gubernur Teguh Setyabudi menyatakan, pihaknya telah meminimalisir TPS rawan banjir di Jakarta. Namun, jika ternyata masih terjadi hujan yang menyebabkan banjir, maka TPS akan dipindahkan ke sejumlah fasilitas umum lainnya, yang terbebas dari banjir.
"Misalnya ke halaman sekolah, lorongnya, atau halaman ruko. Kalau ke pasar juga bisa ke RPTRA nya, dan di sekitar situ," ujar Pj Teguh di kawasan Petamburan, Selasa (27/11/2024).
Teguh mengatakan, pihaknya telah mensosialisasikan skenario pemindahan TPS tersebut kepada Camat, Lurah hingga RT dan RW. Sehingga, pemungutan suara calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dapat tetap berjalan dengan baik bagaimanapun keadaannya.
"Kemudian juga informasi ke masyarakat nanti kita sampaikan melalui kanal-kanal yang ada, sehingga kalau ada pemindahan TPS masyarakat sudah tau," jelas Pj Teguh.
Diketahui, untuk mengantisipasi banjir selama pemungutan suara berlangsung, Pemprov DKI Jakarta telah menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada periode 26-28 November 2024. Langkah itu diambil sebagai antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu pelaksanaan Pemilu Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta hari ini 27 November 2024 besok.
Pelaksanaan TMC dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mencakup pra, hari H, dan pasca pemungutan suara. Kegiatan ini dilakukan dengan penyemaian awan menggunakan bahan tertentu untuk memicu hujan di area yang telah ditentukan. Sehingga dapat mengalihkan curah hujan dari wilayah yang rawan banjir.
"TMC merupakan upaya mitigasi untuk mengurangi curah hujan tinggi yang berpotensi memicu banjir, terutama di wilayah strategis dan area pemungutan suara," ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji kepada wartawan, Senin (25/11/2024).
Isnawa menjelaskan, program ini juga bertujuan mengatasi dampak hujan dari 13 aliran sungai yang melintas di DKI Jakarta. Dimana sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi cuaca di Provinsi Banten dan Jawa Barat
Rekayasa cuaca ini, kata Isnawa, merupakan yang pertama kali dilakukan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di Indonesia.
"TMC kali ini menjadi yang pertama di Indonesia yang dibiayai menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), menunjukkan komitmen DKI Jakarta dalam menanggulangi risiko bencana secara mandiri dan inovatif," ungkap Isnawa.