
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel. (Fathnur Rohman/Antara)
JawaPos.com–Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, dari kejadian penanganan tawuran yang menyebabkan 7 korban tewas yang mayatnya ditemukan di Kali Bekasi, muncul dua persoalan sekaligus. Pertama, penanganan pidana. Kedua, mitigasi bencana.
Persoalan pertama menurut dia, perlu dicermati dengan mengecek apakah simpulan tim patroli. Bahwa di hadapan mereka ada sekumpulan orang yang terindikasi kuat akan melakukan pidana, benar-benar merupakan penilaian objektif.
”Atau itu justru merupakan false objective alias mengada-ada atau pun berlebihan,” ucap Reza.
Apabila penilaian tim patroli itu memang objektif, lanjut dia, berikutnya perlu ditakar seberapa prosedural, proporsional, dan profesional, kerja tim patroli saat itu.
Persoalan kedua menurut dia, ditelaah dengan menggali apakah tim patroli saat itu sadar atau tidak, sengaja atau tidak, telah mendorong target (kerumunan orang) ke dalam situasi kritis. Selanjutnya, ketika tim patroli mengetahui bahwa target berada dalam situasi kritis, misalnya terjun ke sungai yang dalam dan berbatu, apa gerangan langkah mitigasi yang tim patroli untuk mengeluarkan target dari situasi berbahaya tersebut.
”Harap diingat, terlepas apakah target sesungguhnya berencana atau pun tidak berencana melakukan tindak pidana, polisi tetap harus melakukan mitigasi terhadap situasi kritis yang muncul,” tandas Reza.
”Termasuk berupaya menyelamatkan target dari risiko kematian. Itulah tahap-tahap investigasi yang menurut saya perlu dilakukan terhadap tim patroli,” imbuh dia.
Dari tim, lanjut Reza, berikutnya adalah investigasi atau tepatnya assessment terhadap masing-masing personel dalam tim patroli tersebut. Terkait itu, dalam police encounter yang berujung maut, satu hal yang sering didalami adalah kemungkinan individu (personel) polisi mengalami implicit bias.
”Seberapa besar kemungkinan implicit bias mewarnai bahkan mengacaukan proses berpikir personel tim patroli?” tutur Reza.
Dia mengatakan, negara dalam situasi amat membutuhkan keamanan dan ketertiban. Bekasi acap diidentikkan sebagai wilayah rawan.
”Tim patroli by default dibentuk sebagai respons terhadap situasi chaotic. Ketiga hal tersebut menjadi preteks bagi kewaspadaan sangat tinggi personel tim patroli sejak mereka berangkat dari markas,” papar Reza.
Dia menjelaskan, implicit bias di TKP terpantik ketika personel bertemu sejumlah orang pada jam malam di lokasi seperti itu. ”Serta-merta personel melompat ke simpulan bahwa sejumlah orang pada jam segitu di lokasi seperti itu pasti akan melakukan tindak pidana,” urai Reza.
Karena merupakan bias, dia menambahkan, dan tidak berdasar pada data yang memadai, tindakan eksesif oleh personel tim patroli sangat mungkin terjadi.
”Apa akibatnya ketika mereka mengambil tindakan eksesif?Jelas, alih-alih membuat situasi aman terkendali, tindak-tanduk personel polisi justru membahayakan,” terang Reza.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
