Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Maret 2022 | 23.00 WIB

Ibu Kota Pindah ke IKN, Pesona Jabodetabek Tetap Tak Tergantikan

Warga menikmati suasana menjelang sore di Hutan Kota GBK Jakarta, Minggu (17/10/2021). Hutan Kota mulai dibuka secara umum dengan memberlakukan pembatasan sebanyak 150 orang dengan batas waktu satu jam kunjungan. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com - Image

Warga menikmati suasana menjelang sore di Hutan Kota GBK Jakarta, Minggu (17/10/2021). Hutan Kota mulai dibuka secara umum dengan memberlakukan pembatasan sebanyak 150 orang dengan batas waktu satu jam kunjungan. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JawaPos.com - Ibu Kota Negara Indonesia akan  pindah ke Kalimantan. Namun, Jakarta dan sekitarnya atau wilayah aglomerasi Jabodetabek diperkirakan tidak akan kehilangan gairahnya dan tetap menjadi kota bisnis yang menggiurkan.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pesona Jakarta dan sekitarnya dalam dunia bisnis tak dapat tergantikan. Sebab, infrastruktur di Jakarta dan sekitarnya sangat mendukung kawasan industri yang mampu mendongkrak perekonomian nasional. Infrastruktur tersebut seperti MRT, LRT, dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang akan segera rampung.

“Jakarta tetap akan menjadi pusat atau central dari proses transaksi bisnis dan juga akan menjadi pusat kegiatan ekonomi,” kata Bhima kepada JawaPos.com, Selasa (15/3).

Apalagi, lanjutnya, Kota Jakarta dan sekitarnya didukung oleh populasi penduduk yang sangat besar. Sehingga akan mempengaruhi suplai dan demand yang menjadi faktor utama roda perekonomian. “Dimana ada permintaan disitu pelaku usaha akan mendirikan kantor atau pabrik. Jadi mau IKN ke Kalimantan pun jakarta tak akan terpengaruh,” ucapnya.

Menurutnya, pelaku bisnis yang cukup rasional pasti mempertimbangkan segala aspek seperti konsumen yang akan dibidik. Meskipun Ibu Kota pindah ke Kalimantan, belum ada kepastian terkait proyeksi model bisnis seperti apa yang tepat. “Pembangunan IKN ini bukan pembangunan 1-2 tahun tapi puluhan tahun. Dan juga belum ada kepastian siapa yg akan menjadi konsumen di IKN,” imbuhnya.

Bhima melanjutkan, menggeser pusat perekonomian dari Jakarta ke Kalimantan tidak mudah. Meskipun para Aparatur Negeri Sipil (ASN) yang ditugaskan ke kota tersebut belum tentu akan memboyong keluarganya. “Misalnya mereka tinggal di Jabodetabek, karena mereka sudah terlanjur mencicil rumah KPR selama 30 tahun. Jadi ngga semudah itu ya menggeser permintaan,” ucapnya.

Bhima menekankan, kota Kalimantan hanyalah merupakan Ibu Kota Negara. Belajar dari negara lain yang memindahkan Ibu Kotanya seperti Myanmar dan Malaysia cenderung sepi. Sebab, warga negaranya ke Ibu Kota hanya melakukan proses perizinan atau administrasi. “Apalagi sekarang bisa digantikan dengan online maka buat apa datang ke IKN, buat apa mendirikan bisnis di IKN,” tegasnya.

Dengan demikian, Kota Jakarta dan sekitarnya akan tetap menjadi magnet ekonomi dan bisnis. Sebab 70 persen peredaran uang ada di wilayah Jabodetabek. Jika melihat dari potensi bisnis yang saat ini terjadi, misalnya komoditas batu bara, sawit, dan industri tambang yang berlokasi di luar Jawa, perusahaan tetap membangun kantor di Jakarta.

“Kantor-kantor yang sepi di Jakarta itu mulai akan terisi kembali di isi oleh perusahaan-perusahaan di bidang komoditas. Meskipun komoditasnya kebunnya ada di Sumatera, Kalimantan, tapi pemilik usaha tetap mendirikan kantor pusatnya di Jakarta,” pungkasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore