
Ilustrasi ramadhan. (Freepik)
JawaPos.com - Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat di Indonesia selalu dihadapkan pada perbedaan penetapan awal puasa setiap tahunnya. Ada yang mulai puasa lebih dulu, ada juga yang memulai keesokan harinya. Namun ada kalanya waktu puasa Ramadhan berbarengan.
Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan, mengapa 2 metode penentuan awal puasa Ramadhan kerap berbeda?
Dua metode yang dimaksud adalah metode rukyat dan Hisab. Metode rukyat mengharuskan untuk melihat hilal langsung. Sementara metode kedua yaitu hisab, tidak mengharuskan penglihatan hilal secara langsung dengan menggunakan pendekatan perhitungan astronomi.
Keduanya sama-sama memiliki dasar kuat, baik dari sisi dalil agama maupun ilmu pengetahuan.
Selama perbedaan ini disikapi dengan bijak dan dewasa, perbedaan justru menjadi kekuatan dan kekayaan khazanah keilmuan dalam Islam, bukan justru menimbulkan perpecahan.
Untuk mengetahui lebih lanjut terkait dua metode tersebut, simak penjelasan berikut ini.
Penetapan awal Ramadhan bertujuan untuk menentukan kapan umat Islam mulai wajib melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, yaitu pada tanggal 1 Ramadhan. Dasar utamanya adalah hadis Nabi Muhammad:
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis inilah lahir dua pendekatan utama yaitu rukyat (tekstual/literal) dan hisab (ilmiah/astronomis). Perbedaan cara memahami dan menerapkan hadis inilah yang kemudian memicu perbedaan hasil penetapan.
Rukyat adalah metode penentuan awal Ramadhan dengan cara mengamati hilal secara langsung pada sore hari di tanggal 29 Sya’ban setelah matahari terbenam. Jika hilal terlihat, maka malam itu ditetapkan sebagai awal Ramadhan.
Di Indonesia, metode rukyat dijadikan acuan resmi oleh pemerintah melalui Kementerian Agama RI. Hasil pengamatan dari berbagai titik kemudian dibahas dalam sidang isbat bersama para ulama dan pakar astronomi.
Kelebihan metode rukyat adalah paling sesuai dengan bunyi tekstual hadis Nabi, dipraktikkan sejak zaman Rasulullah,dan menguatkan nilai kebersamaan umat.
Adapun kekurangan metode rukyat antara lain; sangat bergantung pada kondisi cuaca seperti mendung, hujan, atau polusi, hilal sangat tipis akan sulit terlihat, dan bisa berbeda hasil pengamatan antar daerah.
Hisab merupakan metode penentuan awal Ramadhan dengan perhitungan posisi bulan dan matahari secara matematis dan astronomis, tanpa menunggu terlihatnya hilal secara langsung.
Di Indonesia, metode ini biasanya digunakan oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, yang menggunakan kriteria wujudul hilal. Artinya, jika secara perhitungan hilal sudah berada di atas ufuk (meski belum terlihat), maka sudah dianggap masuk bulan Ramadhan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
