Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Mei 2025 | 06.20 WIB

Dengan Pendekatan Tasawuf, Kenalkan Konsep Al-Qur’an sebagai Obat Jiwa dan Kehidupan Sosial

Dai 3T Inspiratif mendapatkan penghargaan dari Kemenag. (Humas Kemenag) - Image

Dai 3T Inspiratif mendapatkan penghargaan dari Kemenag. (Humas Kemenag)

JawaPos.com - Berdakwah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) memiliki tantangan tersendiri bagi pendakwah atau dai. Mereka tidak sekadar menyampaikan firman Allah Swt di dalam Al-Quran. Ada banyak beragam pendekatan yang dipakai agar syiar Islam dapat diterima oleh umat muslim di daerah 3T.

Belum lagi menjangkau jamaahnya yang begitu berbeda dengan jamaah di daerah perkotaan atau daerah non 3T. Seperti yang dilakoni Atropal Asparina. Pendakwah 32 tahun itu berbagi pengalaman saat berdakwah di Keerom, Papua, pada bulan suci Ramadhan lalu. Di bulan suci, Atropal Asparina berceramah di tengah kondisi siaga. Apalagi kawasan Papua menjadi daerah khusus yang mendapat pengawalan dari TNI/Polri.

Selama Ramadhan, Atropal Asparinatetap berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Dia menyampaikan ilmu fikih dan membina masyarakat. Salah satu fokusnya edukasi pengurusan jenazah.

“Di sana (Keerom), angka kematian ibu hamil dan anak tinggi karena malaria. Tapi harga kain kafan bisa sampai satu juta rupiah. Saya berusaha menghubungkan Dompet Dhuafa Papua dengan Jawa untuk membantu pengadaan kain kafan,” kenangnya.

Apalagi ketika Ramadhan, menginstruksikan masyarakat untuk tidak melakukan takbiran keliling, pemukulan beduk, atau kegiatan lain menjelang Idul Fitri, demi menjaga keamanan.

Selain Atropal Asparina, dua penceramah lainnya juga punya pengalaman berdakwah selama Ramadhan di daerah 3T. Yaitu, Abdul Latif dan Aji Suprapto.

Abdul Latif, dai dari Banten mensyiarkan Islam di Pulau Morotai, Maluku Utara (Malut). Tepatnya di Desa Wayabula. Di wilayah itu, dai 37 tahun tersebut mendapatkan kebutuhan keagamaan masyarakat lebih bersifat spiritual daripada ritual.

Setelah berdialog dengan tokoh adat dan pemerintah setempat, Latif memilih pendekatan tasawuf. Dia memperkenalkan konsep Al-Qur’an sebagai obat, baik untuk jiwa maupun kehidupan sosial. “Di sini, masyarakat sangat merespons pendekatan yang menenangkan dan menyentuh batin. Mereka membutuhkan kedamaian,” tuturnya.

Sedangkan Aji Suprapto, dai asal Bekasi, Jawa Barat (Jabar) mengabdi di Kampung Zakat, Desa Selajambe, Kabupaten Kuningan. Dia menjalani misi dakwah dengan sepenuh hati selama Ramadhan. Tanpa pernah membayangkan akan mendapat penghargaan.

“Saya benar-benar terharu. Tidak pernah punya ekspektasi apa pun. Ini rezeki yang datang dari arah yang tak disangka,” katanya.

Bagi Aji, dakwah adalah jalan pengabdian. dia menjangkau masyarakat desa dengan pendekatan yang membumi dan humanis. Dia menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami, menyelipkan nilai-nilai Islam dalam percakapan sehari-hari. Menyapa masyarakat tidak hanya di masjid, tetapi juga di sawah, warung kopi, serta kegiatan gotong royong.

Metode yang digunakan menekankan pada dakwah kultural, yakni mendekati masyarakat melalui adat dan tradisi setempat.

Dai 35 tahun itu tidak datang dengan pendekatan formal dan menggurui. Dia datang dengan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Aji juga aktif menggelar pengajian keluarga dari rumah ke rumah, pelatihan ibadah praktis untuk remaja dan lansia, serta kegiatan sosial seperti berbagi sembako, bersih-bersih masjid, dan bimbingan keluarga sakinah.

“Saya tidak ingin mereka hanya mendengar ceramah, tetapi juga merasakan manfaat kehadiran dai dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Atas pengabdiannya yang luar biasa selama Ramadhan, ketiga mendapat penghargaan dari Kementerian Agama (Kemenag). Penghargaan itu diberikan dalam Anugerah Syiar Ramadan (ASR) 2025 di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag RI, Jakarta, Jumat (23/5). Penghargaan itu memang diberikan kepada dai-dai yang mengikuti program Dai 3T Inspiratif.

Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi menyebut penghargaan itu merupakan bentuk penghormatan atas peran para dai sebagai ujung tombak dakwah Islam di pelosok negeri. “Para dai yang bertugas di wilayah 3T adalah ujung tombak dakwah Islam rahmatan lil‘alamin di pelosok negeri. Mereka hadir mengisi ruang kosong dakwah dengan pendekatan yang edukatif dan moderat,” ujar Zayadi di sela kegiatan ASR 2025.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore