
Logo Harlah ke-71 IPNU Tahun 2025. (IPPNU)
JawaPos.com – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) memiliki sejarah panjang dalam mewadahi pelajar putri Nahdlatul Ulama, untuk berkembang di dunia pendidikan, dakwah, dan keislaman.
Organisasi ini lahir dari semangat para remaja putri NU yang ingin berkontribusi lebih besar dalam masyarakat, khususnya dalam bidang intelektual dan spiritual.
Seiring perjalanan waktu, IPPNU terus beradaptasi dengan perubahan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi pijakan perjuangannya.
Dilansir dari laman NU Online Jawa Barat, Sabtu (1/3), IPPNU merupakan badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama yang didirikan pada 2 Maret 1953 di Malang, Jawa Timur.
Awalnya, IPPNU berfokus pada pembinaan dan pengkaderan remaja putri NU yang masih bersekolah di madrasah tingkat menengah dan atas, serta santri putri di pesantren.
Namun, seiring perkembangan zaman, pada tahun 1988, organisasi ini mengubah akronimnya menjadi Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama.
Perubahan ini sempat menimbulkan interpretasi yang keliru, sehingga pada 2003 IPPNU kembali ke khittah awalnya sebagai organisasi pelajar putri NU dengan rentang usia 12–30 tahun.
Perjalanan panjang IPPNU bermula dari perbincangan ringan beberapa remaja putri di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta.
Mereka mendiskusikan keputusan Muktamar ke-20 NU di Surakarta yang menyepakati perlunya organisasi pelajar di kalangan nahdliyat.
Dalam forum tersebut, Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, dan badan otonom NU lainnya sepakat membentuk tim resolusi IPNU putri pada Kongres IPNU di Malang, Jawa Timur.
Meski awalnya IPNU putri hanya direncanakan sebagai departemen dalam tubuh IPNU, perdebatan panjang akhirnya menghasilkan keputusan untuk menjadikannya organisasi yang berdiri sendiri.
Hingga pada 2 Maret 1955, IPNU Putri resmi dideklarasikan sebagai organisasi mandiri. Keputusan ini diperkuat dengan dukungan PB Ma’arif NU dan Ketua PP Muslimat NU, Hj. Mahmudah Mawardi.
Dalam kepengurusan awal, Umroh Mahfudhoh terpilih sebagai Ketua, sedangkan Syamsiyah Muthalib menjabat sebagai Sekretaris.
Organisasi ini kemudian dikenal dengan nama IPPNU setelah PB Ma’arif NU memberikan pengesahan atas resolusi pendiriannya.
Seiring berjalannya waktu, IPPNU terus berkontribusi dalam dunia pendidikan, dakwah, dan keislaman. Pada Februari 1956, konferensi pertama IPPNU digelar di Surakarta, diikuti oleh berbagai daerah.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
