
ILUSTRASI ZAKAT. (PINTEREST)
JawaPos.com-Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan potensi filantropi Islam terbesar di dunia. Zakat dan wakaf, dua instrumen ekonomi syariah yang seharusnya bisa menopang pembangunan sosial, hingga kini belum tergarap secara optimal.
Padahal, mayoritas penduduk Indonesia berada di usia muda, yang sebetulnya bisa menjadi motor penggerak baru. Tapi sayang, data menyebut, hal tersebut belum dimaksimalkan.
Berdasar data Badan Wakaf Indonesia (BWI) tercatat, potensi wakaf uang nasional mencapai sekitar Rp 180 triliun per tahun. Sementara zakat mencapai lebih dari Rp 300 triliun.
Namun, realisasi pengumpulan keduanya masih jauh di bawah angka itu. Untuk wakaf, lahan yang sudah terdata mencapai 420 ribu hektare, setara enam kali luas Jakarta, tetapi baru sekitar 30 persen yang dimanfaatkan produktif.
Di sisi lain, generasi Z yang kini tumbuh sebagai digital native punya peluang besar untuk mengubah peta. Dengan akses digital dan semangat kolaborasi, anak muda dinilai bisa menjadi katalis agar zakat dan wakaf tidak lagi sebatas ibadah ritual, tetapi juga instrumen pembangunan.
Generasi muda dinilai harus dikenalkan bahwa zakat dan wakaf bukan sekadar kewajiban, melainkan cara konkret untuk berkontribusi pada isu yang mereka pedulikan, seperti pendidikan, kesehatan, atau lingkungan.
Sejumlah platform digital mulai membuka ruang baru seperti Dompet Dhuafa. Anak muda kini bisa menunaikan zakat atau wakaf melalui aplikasi daring.
"Mekanisme ini tidak hanya memudahkan, tapi juga memberi transparansi yang selama ini sering dipertanyakan," catat perwakilan Dompet Dhuafa melalui keterangannya.
Namun, tantangannya bukan sekadar teknis. Literasi menjadi kunci. Anak muda cenderung merespons pendekatan yang relevan dengan gaya hidup mereka, mulai dari kampanye kreatif di media sosial, gamifikasi, hingga keterlibatan langsung dalam proyek nyata.
Tanpa itu, potensi besar zakat dan wakaf dikhawatirkan akan kembali jalan di tempat. Stagnan.
Namun, dengan komposisi penduduk Indonesia yang mayoritas usia produktif, pertanyaan pentingnya adalah bagaimana mendorong partisipasi anak muda sejak dini. Jika berhasil, zakat dan wakaf bukan hanya akan mengurangi ketimpangan, tetapi juga bisa menjadi fondasi peradaban Islam modern yang lebih kokoh.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
