
Panen anggur di lahan wakaf produktif untuk tingkatkan ekonomi umat. (Istimewa)
JawaPos.com - Di tengah upaya memperkuat kemandirian ekonomi umat, gerakan wakaf di Indonesia mulai bergeser ke arah yang lebih produktif dan berorientasi lingkungan. Salah satu contohnya terlihat dari panen perdana kebun anggur produktif di atas tanah wakaf di Ciburial, Kabupaten Bandung, Minggu (9/11).
Kegiatan bertajuk 'Green Wakaf Panen Anggur Produktif' ini menjadi simbol perubahan paradigma pengelolaan wakaf, dari sekadar aset ibadah menjadi sumber pemberdayaan ekonomi dan sosial. Program ini digagas oleh Wakaf Salman ITB dengan dukungan Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono Abdul Ghofur, menilai inisiatif ini sebagai contoh nyata bagaimana wakaf bisa menjadi instrumen ekonomi yang berdaya guna dan berkelanjutan.
"Wakaf bukan hanya soal membangun masjid, tapi juga membangun masa depan ekonomi umat. Inilah semangat green wakaf, wakaf yang produktif, inovatif, dan ramah lingkungan,” ujar Waryono.
Kebun anggur ini dikembangkan di atas lahan wakaf yang diamanahkan oleh Julia Mufidah, istri Rektor ITB, Prof. Tata Dirgantara. Pengelolaannya dilakukan secara modern menggunakan sistem greenhouse, yang memungkinkan budidaya berkelanjutan dan hasil panen berkualitas.
Direktur Wakaf Salman ITB, Hari Utomo, mengungkapkan bahwa ide menjadikan tanah wakaf sebagai kebun anggur produktif berawal dari keinginan untuk menambah nilai manfaat wakaf secara ekonomi.
“Kami belajar budidaya anggur dan melihat peluangnya besar. Dari situ, tanah wakaf ini kami kelola dengan pendekatan modern agar hasilnya bisa menyejahterakan banyak pihak,” ungkapnya.
Varietas yang dipanen antara lain Gosv, Transfiguration, dan Donetsky. Hasilnya akan dijual dengan merek 'Wakafresh', dan seluruh keuntungan disalurkan untuk mendukung program pendidikan, termasuk para guru tahfidz di Rumah Qur’an Salman.
Program ini merupakan bagian dari Inkubasi Wakaf Produktif Kementerian Agama RI, yang memberikan dukungan pendanaan sebesar Rp 75 juta untuk memperkuat tata kelola dan pengembangan aset wakaf produktif di berbagai lembaga.
Menurut Waryono, model seperti Green Wakaf Anggur diharapkan bisa direplikasi di berbagai daerah, terutama di sektor pertanian dan energi hijau.
“Gerakan wakaf hijau adalah masa depan filantropi Islam. Setiap lahan wakaf seharusnya bisa memberi manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis,” tegasnya.
Ketua YPM Salman ITB, Prof. Suwarno, menilai gerakan wakaf produktif ini bukan hanya tentang kemandirian finansial, tetapi juga tentang keberlanjutan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa wakaf bisa menjadi lokomotif inovasi dan kesejahteraan umat. Greenhouse ini adalah contoh konkret bahwa wakaf dapat menyatu dengan prinsip ekonomi hijau,” katanya.
Panen anggur perdana di Ciburial menjadi bukti bahwa wakaf kini tak lagi identik dengan aset diam. Ia berubah menjadi ekosistem ekonomi umat yang hidup, adaptif terhadap teknologi, dan berpihak pada kelestarian lingkungan.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
