
Para mahasiswa dan aktivis memblokir akses ke Andreas-Gymnasium di Berlin bulan ini sebagai protes terhadap wajib militer dan pemotongan pendidikan. (Snapshot-photography/F Boillot/Shutterstock via Guardian).
JawaPos.com - Lebih dari 160.000 orang diperkirakan turun ke jalan di berbagai kota di Jerman pada Sabtu (31/10) waktu setempat untuk memprotes mahalnya biaya hidup, buruknya fasilitas pendidikan, dan rencana pemberlakuan wajib militer. Aksi yang digerakkan kelompok muda Generasi Z itu berlangsung di tengah gelombang demonstrasi anak muda yang sebelumnya merebak di sejumlah negara Eropa.
Demonstrasi tersebut dijadwalkan berlangsung di 34 kota, termasuk Berlin, Frankfurt, dan Munich. Gerakan yang menggunakan nama Gen Z regelt atau Gen Z mengambil kendali itu ingin mendesak pemerintah Jerman agar lebih serius memperhatikan persoalan yang dihadapi generasi muda.
Selain menuntut peningkatan investasi di sektor pendidikan, para demonstran menolak rencana wajib militer dan meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengurangi beban biaya hidup yang terus meningkat.
Baca Juga:Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Peredaran Miras, 15 Toko Disegel karena Lakukan Pelanggaran
Aksi ini sekaligus memperlihatkan meningkatnya ketidakpuasan anak muda terhadap kebijakan pemerintah Kanselir Friedrich Merz, terutama di tengah tekanan ekonomi yang membuat generasi muda semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski diperkirakan berlangsung damai, pemerintah Jerman mengingatkan adanya potensi kelompok ekstremis yang mencoba memanfaatkan demonstrasi untuk kepentingan mereka.
Kementerian Dalam Negeri Federal Jerman menyebut sejumlah kelompok ekstremis sayap kiri dan kelompok yang memiliki keterkaitan dengan gerakan ekstremis asing ikut berupaya menggalang dukungan.
Kekhawatiran pemerintah tidak lepas dari pengalaman demonstrasi di negara-negara Eropa lainnya. Di Prancis, aksi protes yang melibatkan anak muda dalam beberapa kesempatan berkembang menjadi kerusuhan, penjarahan, hingga pembakaran fasilitas umum.
Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse, Roman Poseck, mengingatkan agar situasi tersebut tidak terulang di Jerman.
"Kita semua memiliki gambaran dari Prancis dalam pikiran kita, penjarahan, pembakaran rumah, pembakaran kendaraan polisi, dan serangan terhadap petugas polisi," kata Poseck dilansir Reuters.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022