Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Rian Alfianto
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21.48 WIB

160 Ribu Anak Muda Jerman Turun ke Jalan, Tuntut Pendidikan Lebih Baik dan Biaya Hidup Turun

Para mahasiswa dan aktivis memblokir akses ke Andreas-Gymnasium di Berlin bulan ini sebagai protes terhadap wajib militer dan pemotongan pendidikan. (Snapshot-photography/F Boillot/Shutterstock via Guardian). - Image

Para mahasiswa dan aktivis memblokir akses ke Andreas-Gymnasium di Berlin bulan ini sebagai protes terhadap wajib militer dan pemotongan pendidikan. (Snapshot-photography/F Boillot/Shutterstock via Guardian).

JawaPos.com - Lebih dari 160.000 orang diperkirakan turun ke jalan di berbagai kota di Jerman pada Sabtu (31/10) waktu setempat untuk memprotes mahalnya biaya hidup, buruknya fasilitas pendidikan, dan rencana pemberlakuan wajib militer. Aksi yang digerakkan kelompok muda Generasi Z itu berlangsung di tengah gelombang demonstrasi anak muda yang sebelumnya merebak di sejumlah negara Eropa.

Demonstrasi tersebut dijadwalkan berlangsung di 34 kota, termasuk Berlin, Frankfurt, dan Munich. Gerakan yang menggunakan nama Gen Z regelt atau Gen Z mengambil kendali itu ingin mendesak pemerintah Jerman agar lebih serius memperhatikan persoalan yang dihadapi generasi muda.

Selain menuntut peningkatan investasi di sektor pendidikan, para demonstran menolak rencana wajib militer dan meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengurangi beban biaya hidup yang terus meningkat.

Aksi ini sekaligus memperlihatkan meningkatnya ketidakpuasan anak muda terhadap kebijakan pemerintah Kanselir Friedrich Merz, terutama di tengah tekanan ekonomi yang membuat generasi muda semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah Waspadai Penunggang Gelombang Demonstrasi

Meski diperkirakan berlangsung damai, pemerintah Jerman mengingatkan adanya potensi kelompok ekstremis yang mencoba memanfaatkan demonstrasi untuk kepentingan mereka.

Kementerian Dalam Negeri Federal Jerman menyebut sejumlah kelompok ekstremis sayap kiri dan kelompok yang memiliki keterkaitan dengan gerakan ekstremis asing ikut berupaya menggalang dukungan.

Kekhawatiran pemerintah tidak lepas dari pengalaman demonstrasi di negara-negara Eropa lainnya. Di Prancis, aksi protes yang melibatkan anak muda dalam beberapa kesempatan berkembang menjadi kerusuhan, penjarahan, hingga pembakaran fasilitas umum.

Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse, Roman Poseck, mengingatkan agar situasi tersebut tidak terulang di Jerman.

"Kita semua memiliki gambaran dari Prancis dalam pikiran kita, penjarahan, pembakaran rumah, pembakaran kendaraan polisi, dan serangan terhadap petugas polisi," kata Poseck dilansir Reuters.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore