
Foto arsip memperlihatkan Satoshi Uematsu, yang saat itu menjadi tersangka pembunuhan di fasilitas perawatan penyandang disabilitas Tsukui Yamayuri En, tersenyum di dalam kendaraan saat meninggalkan kantor polisi di Sagamihara untuk dibawa ke kejaksaan pada 27 Juli 2016. (Kyodo)
JawaPos.com - Sepuluh tahun setelah pembantaian di Sagamihara, Jepang, yang menewaskan 19 penyandang disabilitas, seorang mahasiswa yang pernah menemui pelaku di tahanan berharap generasi muda tidak melupakan pelajaran dari tragedi tersebut. Ia menilai kasus itu memunculkan pertanyaan penting tentang diskriminasi, kesepian, dan keinginan seseorang untuk mendapatkan pengakuan.
Dilansir dari Kyodo, Sabtu (10/10), Kazuaki, nama samaran seorang mahasiswa berusia 21 tahun di Tokyo, pernah menemui Satoshi Uematsu, pelaku pembunuhan yang saat itu ditahan di Yokohama. Kazuaki mengunjungi Uematsu empat kali selama sekitar 18 bulan sebelum persidangan berakhir dengan vonis hukuman mati.
Kazuaki masih duduk di kelas dua SMP ketika pertama kali mengetahui kasus tersebut melalui berita televisi. Ia sangat terganggu melihat rekaman Uematsu yang berambut pirang tersenyum ke arah kamera saat dibawa ke kejaksaan.
"Saya tidak mengerti bagaimana seseorang bisa melakukan hal seperti itu dan masih tersenyum," katanya.
Rasa ingin tahunya semakin besar setelah membaca artikel majalah tentang seorang editor yang pernah menemui Uematsu di tahanan. Kazuaki kemudian mencari informasi mengenai prosedur kunjungan dan mengirim surat kepada Uematsu karena ingin memahami lebih jauh kasus tersebut.
Uematsu membalas surat itu dengan cepat. Selama kunjungan yang masing-masing berlangsung maksimal 30 menit, Kazuaki selalu menyiapkan pertanyaan dalam buku catatan.
Uematsu merupakan mantan pegawai Tsukui Yamayuri En, sebuah fasilitas perawatan bagi penyandang disabilitas intelektual di Sagamihara, Prefektur Kanagawa. Pada Juli 2016, ia menyerang para penghuni saat mereka tidur, menewaskan 19 orang dan melukai 26 lainnya.
Dalam percakapan dengan Kazuaki, Uematsu mengatakan penyandang disabilitas yang tidak mampu berkomunikasi merupakan beban bagi orang lain dan tidak diperlukan masyarakat. Ia bahkan berpendapat mereka seharusnya menjalani eutanasia dengan persetujuan keluarga.
Kazuaki menganggap pemikiran tersebut tidak masuk akal dan dipenuhi lompatan logika.
Ia juga terkesan dengan perhatian Uematsu yang berlebihan terhadap penampilan fisik. Ketika ditanya mengapa tersenyum saat dibawa ke kejaksaan, Uematsu mengatakan baru bangun tidur dan merasa penampilannya buruk. Ia mengaku mencoba menutupi wajah, tetapi akhirnya tertawa ketika melihat banyak kamera mengarah kepadanya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022