
Ilustrasi Agen AI yang bisa memberikan jawaban suara mayoritas, bahkan ketika jawabannya salah / Foto: (Psypost)
JawaPos.com — Kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak selalu mempertahankan jawaban yang benar ketika berhadapan dengan pendapat kelompok. Studi terbaru menemukan bahwa agen AI dapat mengikuti suara mayoritas dan mengubah pilihannya berdasarkan pendapat yang paling banyak dianut agen lain.
Dalam kondisi tertentu, kecenderungan tersebut bahkan membuat agen yang semula mampu menjawab dengan benar mengikuti jawaban mayoritas yang salah.
Temuan itu berasal dari studi “AI agents can coordinate via majority-following beyond human scale” karya Giordano De Marzo, Claudio Castellano, dan David Garcia yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances.
Dilansir dari PsyPost, Senin (24/8/2025), penelitian ini mengkaji bagaimana model AI berperilaku ketika ditempatkan dalam kelompok dan saling memengaruhi. “Agen AI adalah entitas baru yang benar-benar bertindak di dunia, dan ketika teknologi ini muncul, sudah jelas bahwa teknologi tersebut akan bertahan serta agen-agen ini harus saling berinteraksi untuk menyelesaikan sesuatu yang kompleks,” kata De Marzo, peneliti pascadoktoral dan dosen di Laboratorium Ilmu Data Sosial, Center for Data and Methods, University of Konstanz.
Agen AI Spontan Mengikuti Suara Mayoritas
Dalam eksperimen awal, peneliti menggunakan model dari keluarga GPT, Claude, dan Llama dalam kelompok dengan ukuran berbeda, mulai dari 50 agen. Setiap agen menerima salah satu dari dua pendapat netral yang dipilih secara acak. Untuk menghindari pengaruh makna kata, pilihan tersebut menggunakan huruf acak.
Pada setiap putaran, agen diperlihatkan pendapat seluruh anggota kelompok dan diminta menentukan pilihannya kembali. Tidak ada instruksi untuk mengikuti mayoritas atau mencapai kesepakatan.
Meski demikian, GPT-4 Turbo dan Claude 3 Opus akhirnya mencapai konsensus penuh. Sebanyak 100 persen agen dalam kelompok tersebut memilih satu pendapat. Sebaliknya, GPT-3.5 Turbo tidak mencapai konsensus dan pilihannya tetap berfluktuasi di sekitar 50:50.
“Kelompok agen AI dapat tetap bersatu dengan sendirinya. Ketika diberikan dua pilihan yang sama-sama baik, tanpa jawaban yang benar dan tanpa instruksi untuk sepakat, mereka mencapai pilihan bersama hanya dengan mengikuti pilihan yang dianut mayoritas di sekitarnya,” ujar De Marzo.
Peneliti menyebut kecenderungan mengikuti mayoritas ini sebagai kekuatan mayoritas (majority force). Polanya dapat dijelaskan menggunakan model matematika yang sebelumnya digunakan untuk menggambarkan perilaku material magnetik, ketika atom cenderung menyelaraskan diri dengan atom di sekitarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
