
Demis Hassabis, CEO Google DeepMind yang akan meninggalkan jabatannya sebagai CEO / Foto: (Fortune)
JawaPos.com — Google DeepMind menghadapi tekanan internal ketika persaingan kecerdasan buatan (AI) global memasuki fase semakin ketat. Pergantian pucuk pimpinan, hengkangnya ilmuwan senior, keterlambatan model Gemini, hingga kelelahan karyawan menunjukkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar reorganisasi.
Google kini dituntut mengejar OpenAI dan Anthropic sekaligus mempertahankan talenta yang menjadi fondasi pengembangan AI-nya.
CEO Google Sundar Pichai mengumumkan perombakan kepemimpinan Google DeepMind pada Rabu (5/8). Hassabis melepaskan jabatan CEO dan menjadi chairman, sedangkan Kepala Teknologi DeepMind Koray Kavukcuoglu mengambil alih operasional sebagai senior vice president dan melapor langsung kepada Pichai.
Kepala ilmuwan Google Jeff Dean juga meninggalkan perusahaan bersama sejumlah peneliti senior. Hassabis tetap menjadi kepala ilmuwan Alphabet dan disebut akan bekerja bersama Pichai dalam persoalan strategis AI.
Melansir Fortune, Rabu (12/8/2026), perubahan itu mengejutkan karyawan DeepMind di London. Seorang insinyur menggambarkan reaksi internal "sangat beragam". Pekerja lain menilai perubahan tersebut sebagai "langkah kecil, tetapi secara bertahap melanjutkan tren" pemindahan kekuasaan dari London ke Mountain View. Di balik perubahan struktur tersebut, karyawan juga menghadapi persoalan yang lebih mendasar, yakni tersendatnya pengembangan model AI.
Persoalan itu terlihat dari Gemini 3.5 Pro. Model yang diperkenalkan pada Google I/O Mei lalu tersebut semula dijadwalkan meluncur pada Juni, tetapi melewati target pertengahan Juli dan belum dirilis hingga Agustus. Tiga insinyur DeepMind mengatakan keterlambatan itu salah satunya berkaitan dengan kurangnya prioritas terhadap kemampuan coding atau pemrograman. "Mereka sedikit kehilangan bola pada coding," kata salah seorang insinyur.
Analis Artificial Analysis Micah Hill-Smith menilai model Google kini tertinggal dari Anthropic, OpenAI, sejumlah laboratorium Tiongkok, xAI, dan Meta dalam indeks kecerdasan. "Kemampuan coding dan agen AI kini menjadi bagian penting dari produk baru," ujarnya, merujuk pada Claude Code milik Anthropic dan Codex milik OpenAI.
Masalah teknis kemudian beririsan dengan persoalan talenta. Pada Juni, Google kehilangan salah satu pemimpin Gemini, Noam Shazeer, ke OpenAI dan ilmuwan AlphaFold John Jumper ke Anthropic.
Peneliti London lainnya, termasuk Jonas Adler dan Alexander Pritzel, juga meninggalkan perusahaan. Persaingan mendapatkan talenta, peluang kompensasi lebih besar di perusahaan AI yang belum melantai di bursa, serta frustrasi terhadap posisi Google disebut memperkuat gelombang hengkang tersebut.
Persoalan lain muncul dari beban kerja yang tinggi. Seorang insinyur DeepMind mengatakan dirinya telah bekerja sekitar "60 jam per minggu dalam waktu yang cukup lama". Menurutnya, "Memberi tahu orang untuk terus bekerja 60 jam seminggu dan bahwa tekanan kerja akan terus berlangsung biasanya tidak berjalan baik, dan orang-orang mengalami kelelahan," ujarnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
