
Presiden AS Donald Trump (The Guardian)
JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuding perusahaan minyak AS meraup keuntungan terlalu besar dari lonjakan harga energi setelah perang dengan Iran mengganggu pasar minyak global. Sorotan Trump terutama diarahkan kepada ExxonMobil dan Chevron, yang mencatat laba gabungan hingga puluhan miliar dolar AS pada kuartal kedua.
Brent crude, yang sebelum serangan AS-Israel pada akhir Februari berada di sekitar USD 70 per barel, sempat melonjak hingga USD 126 pada akhir April. Harga tersebut kini berada di sekitar USD 85. Lonjakan itu memperbesar keuntungan produsen energi ketika konsumen masih menghadapi tingginya harga bensin.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (6/8/2026), Trump mengatakan ExxonMobil dan Chevron "menghasilkan terlalu banyak uang" akibat kelangkaan pasokan. Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, dia menegaskan, "Saya tidak suka itu," dan meminta kedua perusahaan mengembalikan sebagian keuntungan kepada masyarakat serta menurunkan harga bagi konsumen.
Tekanan Trump datang ketika dua perusahaan energi terbesar AS membukukan lebih dari USD 26 miliar atau sekitar Rp467,2 triliun, dengan kurs Rp17.970 per dolar AS, untuk kuartal yang berakhir Juni.
Chevron mencatat laba kuartalan USD 12,2 miliar, tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dan sekitar lima kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. ExxonMobil memperoleh USD 14,5 miliar, dua kali lipat dari setahun sebelumnya dan menjadi laba kuartalan tertingginya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Baca Juga:Trump Klaim Negosiasi AS-Iran Berjalan Positif, Selat Hormuz Berpeluang Segera Dibuka Lagi
Gelombang keuntungan itu tidak berhenti pada dua perusahaan tersebut. Beberapa jam setelah Trump melontarkan kritik, BP melaporkan laba kuartalannya melonjak dua kali lipat menjadi USD 5,7 miliar.
Kepala Eksekutif BP Meg O’Neill mengatakan, "Kenyataannya, kami memproduksi komoditas global, dan harga produk yang kami jual mengikuti harga komoditas global tersebut." Dia juga mengaku memahami tekanan yang dirasakan rumah tangga akibat tingginya harga energi.
Namun, persoalannya bagi pemerintahan Trump bukan hanya besarnya laba perusahaan, melainkan harga yang harus dibayar konsumen. Rata-rata harga bensin di AS kini mencapai USD 4,11 per galon.
Trump sebelumnya menilai harga bensin semestinya sudah turun menjadi USD 2,25 setelah harga minyak merosot menyusul pembicaraan damai dengan Iran pada Juni. Dia bahkan memerintahkan Departemen Kehakiman menyelidiki dugaan pencatutan harga di sektor energi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
