Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Juli 2026 | 03.24 WIB

Tiongkok Mengirim Robot Humanoid ke Dunia Nyata untuk Memenangkan Perlombaan Kecerdasan Buatan Fisik

Robot humanoid G1 buatan Unitree Robotics dipamerkan dalam ajang Humanoids Summit di Tokyo, Jepang / Foto: (The Japan Times) - Image

Robot humanoid G1 buatan Unitree Robotics dipamerkan dalam ajang Humanoids Summit di Tokyo, Jepang / Foto: (The Japan Times)

JawaPos.com — Di sebuah kawasan industri di pinggiran Beijing, robot humanoid kini dilatih untuk memahami aktivitas manusia dalam lingkungan nyata. Sebuah robot lengan mengambil kantong keripik Lay’s dan menatanya di rak, sementara pekerja merekam aktivitas seperti melipat seprai dan mengambil bantal dari sofa. Rekaman tersebut digunakan untuk melatih sistem AI agar robot mampu memahami dan menjalankan tugas dengan lebih baik.

Dilansir dari The Japan Times, Kamis (16/7/2026), Tiongkok tengah mempercepat penerapan robot humanoid dengan mengirimkan ribuan mesin ke pusat logistik, pabrik baterai, dan berbagai fasilitas industri. Perusahaan robotik Tiongkok kini berfokus mengumpulkan data dari lingkungan nyata untuk mengembangkan embodied intelligence, teknologi AI yang memungkinkan robot memahami kondisi fisik di sekitarnya dan menjalankan tugas secara lebih adaptif.

Upaya tersebut sejalan dengan ambisi Presiden Xi Jinping yang menjadikan industri robotik sebagai salah satu sektor strategis dalam persaingan teknologi dengan Amerika Serikat (AS). Berbekal kekuatan manufaktur dan rantai pasok yang luas, Tiongkok berupaya memanfaatkan penerapan robot dalam skala besar untuk membangun keunggulan di bidang kecerdasan fisik.

Setelah perusahaan seperti Unitree Robotics menarik perhatian dunia melalui robot humanoid G1 dengan demonstrasi bela diri, industri robotik Tiongkok kini bergeser dari sekadar pengembangan perangkat keras menuju pembangunan “otak” robot. Perusahaan teknologi besar seperti Alibaba Group Holding dan Xiaomi ikut memasuki sektor ini, sementara investasi mengalir deras ke perusahaan rintisan robotik.

“Seluruh dunia masih berada di garis awal dalam kecerdasan fisik. Tiongkok, dengan keunggulan rantai pasoknya, memiliki peluang untuk menentukan arah dan membentuk paradigma,” kata Su Hao, ilmuwan komputer lulusan Amerika Serikat yang mendirikan institut di Universitas Fudan Shanghai.

Keunggulan Tiongkok juga terlihat dari skala penerapan robot. Berdasarkan data Federasi Robotika Internasional, negara tersebut memasang sekitar 300.000 robot industri pada 2024, jauh melampaui AS yang hanya memasang sekitar 38.000 unit. Pemerintah Beijing bahkan menargetkan 10.000 robot humanoid ditempatkan di pabrik pada akhir tahun.

Dorongan pemerintah tersebut menarik investasi besar. Menurut data perusahaan riset ITjuzi, sektor robotik Tiongkok telah menerima sedikitnya 100 miliar yuan (dengan kurs Rp2.673 per yuan) atau sekitar Rp267,3 triliun sepanjang tahun ini, lebih besar dibandingkan total investasi lima tahun sebelumnya. Dana tersebut banyak digunakan untuk mengembangkan model AI yang menjadi dasar kemampuan robot.

Namun, tantangan terbesar industri ini adalah kebutuhan data dalam jumlah sangat besar. Berbeda dengan model bahasa besar seperti chatbot AI, robot membutuhkan pengalaman fisik untuk memahami tugas kompleks, seperti menggenggam telur tanpa memecahkannya atau menangkap gelas sebelum jatuh. Karena itu, Tiongkok membangun pusat pengumpulan data yang mensimulasikan supermarket, rumah, kantor, dan lini produksi.

Persaingan juga semakin meningkat dengan perusahaan Amerika Serikat seperti Tesla, Figure AI, dan Agility Robotics yang mengembangkan robot humanoid untuk industri. Namun, perusahaan Tiongkok menilai keunggulan mereka terletak pada kemampuan menerapkan robot secara luas di dunia nyata. “Di sinilah Tiongkok memiliki keunggulan: mengorganisasi tenaga kerja dan menerapkan mesin yang digunakan untuk pengumpulan data dalam skala besar,” ujar Gan Ruyi, kepala algoritma X Square Robot.

Dengan pasar robot humanoid yang diperkirakan Morgan Stanley dapat mencapai nilai USD 5 triliun per tahun pada 2050, persaingan antara Tiongkok dan AS tidak lagi hanya soal siapa yang memiliki robot tercanggih, tetapi siapa yang mampu mengumpulkan data terbanyak untuk membuat robot benar-benar memahami dunia manusia.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore