
Ilustrasi bendera AS dan Tiongkok dalam perebutan dominasi AI global / Foto: (Futurism)
JawaPos.com — Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di kalangan perusahaan besar Amerika Serikat (AS) mulai mengalami perubahan arah. Demi menekan biaya operasional, sejumlah korporasi kini beralih dari model AI buatan OpenAI dan Anthropic ke model asal Tiongkok yang menawarkan harga lebih rendah dengan kemampuan yang dinilai sudah memadai.
Perubahan itu terlihat dari langkah DoorDash, Airbnb, hingga Siemens yang mengadopsi model AI dari DeepSeek, Z.ai, dan Moonshot AI. Selain lebih murah, banyak model AI Tiongkok menggunakan pendekatan open-weight sehingga perusahaan dapat menyesuaikan model dengan kebutuhan sendiri sekaligus memiliki kontrol lebih besar terhadap pemrosesan data.
Dilansir dari Futurism, Selasa (14/7/2026), data OpenRouter menunjukkan penggunaan model AI DeepSeek dan Z.ai kini telah melampaui Claude milik Anthropic maupun ChatGPT buatan OpenAI. Chief Executive Officer (CEO) Featherless AI Eugene Cheah mengatakan perusahaan mulai mengubah prioritasnya. "Perusahaan mulai menyadari, kami tidak harus selalu menggunakan model terbaik. Kami dapat memakai model yang lebih cepat dan lebih murah," ujarnya.
Perubahan itu juga didorong meningkatnya kualitas AI Tiongkok. Peluncuran GLM-5.2 dari perusahaan rintisan Z.ai bulan lalu menarik perhatian Silicon Valley karena dinilai memiliki kemampuan yang setara atau mendekati model AI terdepan AS, tetapi dengan biaya penggunaan yang jauh lebih rendah.
Faktor biaya menjadi alasan utama. Menurut laporan tersebut, ada organisasi yang menghabiskan sekitar USD 500 juta atau sekitar Rp9,06 triliun (kurs Rp18.110 per dolar AS) hanya dalam sebulan untuk biaya penggunaan Claude. Sementara riset Ramp AI Index menunjukkan perusahaan dengan tingkat adopsi AI tertinggi rata-rata membelanjakan sekitar USD 7.500 atau Rp135,83 juta per karyawan setiap bulan untuk layanan AI.
Pengeluaran itu dipicu semakin luasnya penggunaan AI di lingkungan kerja. Meta, misalnya, mendorong karyawan memanfaatkan AI secara intensif bahkan menjadikannya bagian dari penilaian kinerja. Di sisi lain, banyak insinyur perangkat lunak kini menjalankan beberapa agen AI sekaligus untuk meningkatkan produktivitas.
Karena itu, perusahaan mulai mengalihkan pekerjaan yang tidak membutuhkan model AI paling canggih ke layanan yang lebih murah. Pendiri bersama DoorDash Andy Fang mengatakan perusahaannya menghemat biaya dengan menyerahkan "pekerjaan tingkat dasar" kepada model AI Moonshot AI. Sementara perusahaan rintisan Lindy di San Francisco telah meninggalkan layanan Anthropic dan beralih ke DeepSeek V4.
Peneliti Georgetown University's Center for Security and Emerging Technology, Sam Bresnick, menilai langkah tersebut merupakan keputusan bisnis yang rasional. "Perusahaan memiliki insentif memindahkan sebagian beban kerjanya ke model yang lebih murah. Mengapa harus membayar lebih mahal untuk model Anthropic atau OpenAI jika, untuk banyak pekerjaan, model AI Tiongkok sudah cukup memadai?" katanya.
Selain biaya, faktor geopolitik ikut memengaruhi keputusan perusahaan. Kepercayaan terhadap penyedia AI AS melemah setelah pemerintahan Donald Trump menghentikan akses internasional terhadap model Mythos milik Anthropic. Chief Executive Officer Cohere Aidan Gomez mengatakan, "Larangan terhadap Mythos merupakan peristiwa yang paling nyata karena banyak pihak tiba-tiba kehilangan akses. Itu menunjukkan risiko jika seluruh beban kerja bergantung pada satu penyedia saja."
Perkembangan tersebut menandai perubahan baru dalam persaingan AI global. Keunggulan teknologi saja tidak lagi cukup. Kini, efisiensi biaya, fleksibilitas, dan diversifikasi penyedia AI menjadi faktor yang semakin menentukan pilihan perusahaan di tengah kompetisi AS dan Tiongkok.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Argentina Mengajukan Permintaan Khusus kepada FIFA Sebelum Melawan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
