
Papan peringatan penggunaan bahan kimia di tepi lahan pertanian di Wisconsin, Amerika Serikat, 6 Juli 2023 (The Guardian)
JawaPos.com - Keputusan U.S. Food and Drug Administration (FDA) menolak permohonan hukum untuk menetapkan batas kandungan PFAS dalam pangan memicu kekhawatiran baru terhadap perlindungan kesehatan masyarakat di Amerika Serikat. Kebijakan itu menuai kritik karena bertentangan dengan bukti ilmiah yang menempatkan makanan sebagai sumber paparan PFAS terbesar.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (9/7/2026), temuan U.S. Environmental Protection Agency (EPA) serta sejumlah penelitian independen menunjukkan pangan kini menjadi jalur paparan PFAS terbesar. Sejumlah pengujian bahkan menemukan kadar PFAS dalam satu porsi makanan tertentu dapat setara dengan paparan akibat mengonsumsi beberapa gelas air yang telah tercemar senyawa tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, perhatian regulator lebih banyak difokuskan pada pembatasan PFAS dalam air minum. Padahal, senyawa ini digunakan secara luas di sepanjang rantai pangan, mulai dari pestisida, kemasan makanan, lumpur limbah yang dimanfaatkan sebagai pupuk, hingga peralatan masak antilengket.
Karena itu, pemerintahan di bawah Robert F. Kennedy Jr. sempat diharapkan mengambil langkah lebih tegas, mengingat gerakan Make America Healthy Again (MAHA) menjadikan pengurangan bahan kimia beracun dalam makanan sebagai salah satu agenda utamanya.
Permohonan hukum tersebut diajukan Tucson Environmental Justice Task Force (TEJTF) pada November 2023. Setelah FDA tidak memberikan tanggapan dalam batas waktu enam bulan sebagaimana diwajibkan undang-undang, organisasi itu mempersempit permohonannya pada 2025 agar FDA menetapkan ambang batas anjuran bagi dua jenis PFAS yang paling banyak diteliti sekaligus paling berbahaya, yakni PFOA dan PFOS, khususnya pada makanan laut dan susu.
Namun, FDA tetap menolak dengan alasan terdapat "bukti yang belum memadai untuk mendukung permintaan TEJTF", seraya menyatakan lembaga itu tetap berencana menyusun standar penanganan PFAS di masa mendatang.
Pengacara TEJTF, Sandra Daussin, menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang mengecewakan dan memastikan organisasinya akan menggugat FDA.
"Jika zat ini cukup penting untuk diatur dalam air, maka seharusnya juga diatur dalam makanan. Itu merupakan hal yang sangat jelas," ujarnya. Menurutnya, "Tubuh manusia tidak mengetahui dari mana PFAS masuk."
Sebagai informasi, PFAS merupakan kelompok sedikitnya 16.000 senyawa sintetis yang dirancang tahan terhadap air, minyak, dan noda. Karena sangat sulit terurai di lingkungan, kelompok senyawa ini dijuluki "bahan kimia abadi".

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
