Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Juli 2026 | 02.44 WIB

Trump Ancam Iran Lagi: Pilih Damai atau 'Kami Selesaikan', Teheran Balas Ancaman AS dengan Nada Keras

Presiden AS, Donald Trump unggah foto AI menggenggam senjata sembari mengancam Iran. (Truth Social/Donald Trump) - Image

Presiden AS, Donald Trump unggah foto AI menggenggam senjata sembari mengancam Iran. (Truth Social/Donald Trump)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman kepada Iran di tengah mandeknya perundingan nuklir kedua negara. Trump menegaskan Washington hanya memiliki dua pilihan, yakni mencapai kesepakatan dengan Teheran atau kembali menggunakan kekuatan militer.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin (6/7) waktu setempat setelah pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran berakhir pekan lalu tanpa menghasilkan kemajuan berarti. Kondisi tersebut membuat masa depan gencatan senjata 60 hari yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju diplomasi kembali dipertanyakan.

"Kami akan membuat kesepakatan atau kami akan menyelesaikan pekerjaan itu. Dan itu tidak akan sulit. Saya lebih memilih membuat kesepakatan karena saya tidak ingin memengaruhi 91 juta orang," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih.

Sementara itu, mengutip Nikkei Asia, Trump juga kembali menonjolkan kekuatan militer Amerika Serikat jika negosiasi gagal.
"Kami bisa menghancurkan jembatan mereka dalam satu jam, kami bisa melumpuhkan pasokan energi mereka. Mereka tidak punya uang sekarang. Kami tidak memberikan mereka uang," ujarnya.

Pernyataan tersebut menandai bahwa Washington masih membuka pintu diplomasi, tetapi tetap mempertahankan ancaman opsi militer apabila Iran tidak memenuhi tuntutan terkait program nuklirnya.

Di sisi lain, Iran langsung merespons keras ultimatum tersebut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Baqer Zolqadr menyebut ancaman Trump tidak realistis dan tidak akan membuat Teheran gentar.

"Ancaman Trump hanyalah delusi. Rakyat Iran tidak mengenal bahasa ancaman. Berbicaralah kepada rakyat Iran dengan penuh hormat, jika tidak kami akan merespons dengan bahasa yang lain," kata Zolqadr seperti dikutip media pemerintah Iran.

Ketegangan ini muncul hanya beberapa hari setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Alih-alih menunjukkan tanda-tanda melemah setelah konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel, suasana di Iran justru memperlihatkan solidaritas nasional yang kuat.

Sejumlah pengamat menilai dukungan publik yang muncul dalam prosesi pemakaman tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah Iran masih memiliki basis politik yang solid untuk menghadapi tekanan dari luar negeri.

Sebelumnya, Washington berharap gencatan senjata selama 60 hari dapat menjadi momentum menghidupkan kembali jalur diplomasi. Kesepakatan itu dirancang setelah konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, dengan tujuan utama menghentikan pengembangan senjata nuklir Teheran.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore