Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Juni 2026 | 21.54 WIB

Inflasi Jepang Tetap 1,4 Persen Meski Timur Tengah Memanas, Subsidi BBM Jadi Penahan

Foto arsip yang diambil dari helikopter Kyodo News pada 13 Desember 2025 memperlihatkan Menara Tokyo (Tokyo Tower) dan deretan gedung pencakar langit di pusat Kota Tokyo, Jepang. (Kyodo) - Image

Foto arsip yang diambil dari helikopter Kyodo News pada 13 Desember 2025 memperlihatkan Menara Tokyo (Tokyo Tower) dan deretan gedung pencakar langit di pusat Kota Tokyo, Jepang. (Kyodo)

JawaPos.com – Inflasi Jepang bertahan di level 1,4 persen pada Mei 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga konsumen berhasil ditekan meski harga minyak dunia menghadapi tekanan akibat konflik yang memanas di Timur Tengah.

Seperti dilansir Kyodo, Jumat (19/6), angka inflasi inti tersebut sama dengan capaian April. Ini juga menjadi bulan keempat berturut-turut inflasi Jepang berada di bawah level 2 persen.

Data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) inti, yang tidak memasukkan harga bahan makanan segar yang berfluktuasi, naik 1,4 persen secara tahunan. Sementara inflasi inti-inti atau core-core CPI, yang mengecualikan energi dan bahan makanan segar, meningkat 1,8 persen.

Salah satu faktor utama yang menahan inflasi adalah turunnya biaya energi. Harga energi tercatat turun 2,5 persen dibanding tahun sebelumnya setelah pada April turun lebih dalam sebesar 3,9 persen.

Harga bensin menjadi penyumbang terbesar penurunan tersebut. Berkat program subsidi pemerintah, harga bensin turun 7 persen dibanding tahun lalu.

Sejak pertengahan Maret, pemerintah Jepang memberikan subsidi kepada perusahaan distribusi minyak untuk menjaga harga eceran bensin tetap berada di kisaran 170 yen per liter atau sekitar Rp 18.870 per liter (1 yen sekitar Rp 111). Kebijakan itu juga diperkuat oleh berakhirnya pajak sementara bahan bakar pada Desember lalu.

Selain bensin, tarif listrik juga turun 2,4 persen. Penurunan biaya energi membantu meredam tekanan harga yang berasal dari sektor lain.

Harga makanan tanpa memperhitungkan bahan pangan segar masih naik cukup tinggi, yakni 3,5 persen. Namun laju kenaikannya melambat dibanding April yang mencapai 4,1 persen dan menjadi perlambatan inflasi pangan selama 10 bulan berturut-turut.

Kabar baik juga datang dari harga beras. Untuk pertama kalinya sejak November 2022, harga beras turun 4,9 persen dibanding tahun sebelumnya.

Meski harga beras masih relatif tinggi, pemerintah menyebut meningkatnya stok cadangan mulai membantu menekan kenaikan harga. Sebaliknya, beberapa komoditas lain masih mengalami tekanan, seperti biaya pengecatan bangunan yang melonjak 4,7 persen akibat mahalnya bahan baku.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore