
Potret Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bersama Presiden Rusia, Vladimir Putin, di tengah penguatan hubungan strategis Beijing dan Moskwa / Foto: (The Guardian)
JawaPos.com — Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bersiap menyambut Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Beijing pada Selasa dan Rabu pekan ini, hanya empat hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi yang menyita perhatian internasional.
Rangkaian agenda diplomatik tersebut memperlihatkan bagaimana Beijing semakin memosisikan diri sebagai poros utama dalam percaturan geopolitik global di tengah meningkatnya rivalitas antara kekuatan-kekuatan besar dunia.
Menjelang kunjungan Putin, Xi dan pemimpin Kremlin itu dilaporkan saling bertukar “surat ucapan selamat” pada Minggu. Media pemerintah Tiongkok menyebut Xi menegaskan bahwa kerja sama bilateral kedua negara terus mengalami pendalaman dan penguatan secara konsisten.
Tahun ini juga menandai 30 tahun kemitraan strategis antara Beijing dan Moskwa, hubungan yang kini berkembang jauh melampaui kerja sama ekonomi biasa dan semakin mencakup aspek energi, diplomasi, hingga keamanan strategis.
Dilansir dari The Guardian, Senin (18/5/2026), media pemerintah Tiongkok, Global Times, menyebut kunjungan berurutan pemimpin Amerika Serikat dan Rusia ke Beijing dalam waktu kurang dari sepekan sebagai peristiwa yang sangat jarang terjadi sejak era Perang Dingin berakhir.
Dalam laporannya, media tersebut menyatakan bahwa Beijing kini “semakin cepat muncul sebagai titik fokus diplomasi global.” Penilaian itu mencerminkan ambisi Tiongkok untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan penyeimbang di tengah ketegangan internasional yang terus meningkat.
Di sisi lain, hubungan erat antara Tiongkok dan Rusia tetap menjadi sumber kekhawatiran besar bagi negara-negara Barat, khususnya sejak Moskwa melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada 2022.
Para diplomat dan analis Barat menilai dukungan ekonomi dan diplomatik Beijing terhadap Rusia telah membantu mempertahankan keberlangsungan perang tersebut. Meski Tiongkok berulang kali mengklaim bersikap netral, hubungan strategis kedua negara justru semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir.
Xi dan Putin sendiri telah bertemu lebih dari 40 kali, jumlah yang jauh melampaui interaksi Xi dengan sebagian besar pemimpin Barat. Intensitas komunikasi tersebut memperlihatkan kedekatan personal sekaligus keselarasan kepentingan strategis antara kedua negara. Dalam konteks global saat ini, hubungan Beijing-Moskwa tidak lagi dipandang sekadar kemitraan pragmatis, melainkan bagian dari upaya membentuk tatanan dunia multipolar yang dapat mengurangi dominasi Barat.
Selain itu, perdagangan bilateral Tiongkok dan Rusia melonjak ke tingkat tertinggi sejak perang Ukraina dimulai. Tiongkok kini membeli lebih dari seperempat total ekspor Rusia, terutama di sektor energi. Pembelian minyak mentah Rusia dalam skala besar disebut telah memberikan pemasukan ratusan miliar dolar bagi Moskwa untuk menopang pembiayaan perang di Ukraina.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
