Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Mei 2026 | 18.22 WIB

Dampak Perang Iran Tak Terbendung: Ekonomi AS Dilaporkan Mulai Runtuh!

Ilustrasi ekonomi AS dilaporkan menuju keruntuhan akibat perang Iran. (TradingView) - Image

Ilustrasi ekonomi AS dilaporkan menuju keruntuhan akibat perang Iran. (TradingView)

JawaPos.com - Perang yang melibatkan Iran kini bukan sekadar isu geopolitik di kawasan Timur Tengah saja. Dampaknya mulai terasa nyata di dalam negeri Amerika Serikat (AS), negara yang memulai perang bersama sekutunya, Israel, dan disebut semakin sulit untuk disangkal.

Laporan terbaru mengungkap, tekanan ekonomi yang dipicu konflik tersebut telah mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat dan mengancam stabilitas ekonomi secara lebih luas.

Laporan yang dipublikasikan oleh CNN menyebutkan bahwa efek berkelanjutan dari konflik Iran berpotensi memicu fenomena 'demand destruction'. Kondisi ini terjadi ketika harga melonjak tajam hingga memaksa rumah tangga dan pelaku usaha mengubah pola belanja, bekerja, hingga investasi mereka.

Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari terganggunya jalur distribusi energi global, terutama jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut. Jalur vital ini menjadi kunci distribusi minyak dunia, dan gangguan di wilayah tersebut dapat mengguncang bahkan merusak ekonomi Amerika Serikat.

Dilansir pada Selasa (5/5), di dalam negeri AS, dampaknya sangat terasa di sektor energi. Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan bahwa harga energi melonjak 10,9 persen pada Maret, dipicu lonjakan harga bensin sebesar 21,2 persen, kenaikan bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1967. Secara keseluruhan, inflasi tahunan juga tercatat naik 3,3 persen.

Ekonom utama dari RSM US, Joe Brusuelas, memperingatkan bahwa waktu bukanlah sekutu bagi ekonomi Amerika. Ia menegaskan bahwa energi merupakan komponen penting dalam hampir semua sektor ekonomi, sehingga kenaikan harga minyak memicu efek berantai yang luas, mulai dari biaya transportasi, logistik, pertanian, penerbangan, manufaktur, hingga distribusi bahan makanan.

Para ekonom RSM juga mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak pada akhirnya bertindak seperti 'pajak tambahan' bagi masyarakat dan pelaku usaha. Konsumen cenderung menunda pembelian, sementara perusahaan akan memangkas biaya operasional.

Jika inflasi yang dipicu energi terus meningkat, bank sentral kemungkinan akan kesulitan menurunkan suku bunga dan terpaksa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, yang pada akhirnya menambah tekanan ekonomi.

Dampak ini bukan sekadar angka statistik. Seorang insinyur industri otomotif berusia 30 tahun bernama Bryan mengaku mulai mengurangi penggunaan kendaraan, lebih sering bekerja dari rumah, hingga menunda rencana renovasi rumah dan pembelian mobil baru.

Sementara itu, seorang pengemudi layanan transportasi online terpaksa menolak perjalanan jarak jauh dan beralih ke produk kebutuhan sehari-hari yang lebih murah.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore