
Panen gandum di Pakistan, salah satu negara pengimpor terbesar pupuk dari kawasan Teluk. Foto: (The Guardian)
JawaPos.com — Ketahanan pangan global kini menghadapi tekanan serius akibat gangguan pasokan pupuk dari Teluk Persia. Jalur laut yang menghubungkan negara-negara Teluk dengan pasar internasional, khususnya Selat Hormuz, mengalami hambatan signifikan karena konflik bersenjata yang melibatkan Iran dan pihak-pihak lawan.
Gangguan ini mengancam ketersediaan bahan baku pupuk penting bagi produksi pangan dunia dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya risiko kelaparan di sejumlah negara yang sangat bergantung pada impor.
Selat Hormuz bukan hanya jalur minyak dan gas, tetapi juga rute utama bagi sepertiga perdagangan bahan baku pupuk global. Bahan seperti amonia, nitrogen, dan sulfur, yang diperlukan untuk pupuk sintetis, melewati jalur ini, bersamaan dengan sekitar 20 persen pengiriman gas alam dunia yang menjadi bahan baku utama pupuk. Gangguan di Selat Hormuz pun berpotensi menimbulkan dampak ganda, baik terhadap pasokan energi maupun produksi pangan di seluruh dunia.
Dilansir dari The Guardian, Senin (6/4/2026), David Miliband, Kepala International Rescue Committee, memperingatkan bahwa blokade ini merupakan sebuah bom waktu ketahanan pangan. Menurut Miliband, "Peluang untuk mencegah krisis kelaparan global yang masif semakin menipis." Pernyataan ini menunjukkan urgensi intervensi internasional sebelum situasi berkembang menjadi krisis besar.
Organisasi Perdagangan Dunia menyebut pupuk sebagai isu utama yang paling mengkhawatirkan saat ini. Sementara Program Pangan Dunia PBB memperingatkan bahwa jumlah orang yang bisa menghadapi kelaparan akut bisa mencapai angka tertinggi tahun ini jika konflik berlanjut.
Ketergantungan dunia terhadap pupuk sintetis sangat besar. Sekitar setengah produksi pangan global bergantung pada nitrogen sintetis untuk menjaga hasil panen. Tanpa pasokan yang stabil, produksi pangan turun, mendorong kenaikan harga roti, beras, kentang, dan pasta, serta menaikkan biaya pakan ternak, terutama di negara berpendapatan rendah.
Krisis ini diperburuk oleh lonjakan harga pupuk sejak awal konflik. Harga urea Mesir, sebagai patokan pasar, naik lebih dari 60 persen menjadi sekitar 780 dolar AS per ton atau Rp 13.252.200 per ton dengan kurs Rp 16.990 per dolar AS, dari 484 dolar AS atau Rp 8.224.160 pada akhir Februari. Meskipun belum mencapai puncak pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, tekanan harga tetap tinggi.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
