
Presiden AS Donald Trump menyampaikan dukungannya terhadap keluarga Ellison (The Washington Post)
JawaPos.com - Keluarga Ellison, melalui kombinasi kekuatan teknologi dan investasi strategis, tengah membangun sebuah kerajaan media yang berpotensi mengubah lanskap industri global. Di saat yang sama, dukungan terbuka dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu perdebatan serius mengenai independensi proses regulasi, khususnya ketika pemerintah masih meninjau akuisisi besar di sektor media.
Langkah ekspansi ini berpusat pada upaya Paramount Skydance mengakuisisi Warner Bros. Discovery senilai 110 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.866 triliun dengan kurs Rp 16.970 per dolar AS). Akuisisi ini mencakup aset strategis seperti CNN, yang selama ini menjadi salah satu pemain utama dalam industri berita global.
Melansir dari The Washington Post, Rabu (18/3/2026), Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth secara terbuka memuji keluarga Ellison. Trump bahkan menyatakan, "Keluarga Ellison, dua orang hebat, orang-orang hebat. Ini keluarga yang luar biasa," dalam pernyataannya menjelang rapat dewan Kennedy Center.
Di sisi lain, Hegseth melontarkan kritik keras terhadap CNN dengan menyebut pemberitaannya sebagai "berita palsu," seraya menambahkan, "Semakin cepat David Ellison mengambil alih jaringan itu, semakin baik." Pernyataan ini muncul setelah laporan CNN mengenai risiko gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam konflik AS-Israel dengan Iran.
CNN sendiri merupakan salah satu aset paling signifikan dalam rencana akuisisi tersebut, yang saat ini masih menunggu persetujuan Departemen Kehakiman. Posisi ini menjadikan proses merger tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga sarat kepentingan politik dan pengaruh media.
Larry Ellison, pendiri Oracle sekaligus sekutu lama Trump, memainkan peran kunci dengan memberikan jaminan finansial lebih dari 40 miliar dolar AS untuk mendukung penawaran Paramount. Bersama putranya, David Ellison, dia kini diposisikan sebagai aktor baru dalam industri media global, bertransformasi dari teknologi ke konten dan distribusi informasi.
Namun, keterlibatan Trump dalam proses ini memicu kritik tajam dari kalangan ahli hukum persaingan usaha. Mantan kepala divisi antitrust Departemen Kehakiman pada era Barack Obama, William Baer, menekankan bahwa proses peninjauan merger semestinya tetap netral dan berbasis kepentingan publik. "Peninjauan merger antitrust seharusnya berfokus pada apa yang benar-benar menguntungkan persaingan usaha dan melindungi konsumen," ujarnya.
Dia kemudian mengkritik arah kebijakan saat ini dengan lebih keras: "Pemerintahan ini secara terbuka menunjukkan bahwa mereka akan memihak, bukan berdasarkan substansi atau hukum, melainkan untuk menguntungkan sekutu dan merugikan pihak yang dianggap lawan, tanpa memedulikan prinsip hukum yang berlaku."
Kritik serupa disampaikan oleh Daniel Crane, profesor hukum di University of Michigan, yang menyatakan, "Terlepas dari konsensus bipartisan pasca-Watergate bahwa lembaga harus bebas dari intervensi politik, Trump dengan jelas memandang keputusan antitrust sebagai kewenangannya."
Sementara itu, Gedung Putih membantah adanya konflik kepentingan. Juru bicara Kush Desai menegaskan, "Presiden Trump telah beberapa kali menyatakan memiliki hubungan pertemanan yang baik dengan keluarga Ellison, hubungan pribadi yang sama sekali tidak memengaruhi kebijakan pemerintah. Satu-satunya kepentingan khusus yang memandu keputusan Presiden adalah kepentingan terbaik rakyat Amerika."
