Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Maret 2026 | 01.51 WIB

Pakar Nuklir Tiongkok Wang Mingdan: Dunia Masih Butuh 20–30 Tahun untuk Mencapai Fusi Nuklir Terkendali

Wang Mingdan, anggota Komite Nasional ke-14 Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok sekaligus presiden Shanghai Nuclear Engineering Research and Design Institute di bawah State Power Investment Corporation. Foto: Global Times - Image

Wang Mingdan, anggota Komite Nasional ke-14 Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok sekaligus presiden Shanghai Nuclear Engineering Research and Design Institute di bawah State Power Investment Corporation. Foto: Global Times

JawaPos.com — Perlombaan global untuk mengembangkan energi fusi nuklir semakin intens dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi yang kerap dijuluki sebagai “matahari buatan” ini diyakini banyak ilmuwan sebagai kandidat sumber energi bersih jangka panjang bagi peradaban manusia. Namun di balik optimisme tersebut, sejumlah pakar menilai jalan menuju penerapan komersial masih panjang dan penuh tantangan ilmiah.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan perusahaan teknologi di berbagai negara meningkatkan investasi pada riset fusi nuklir. Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Tiongkok berlomba membangun fasilitas eksperimen besar dengan harapan mampu membuka era baru energi rendah karbon yang lebih stabil dibandingkan sumber energi terbarukan konvensional.

Dilansir dari Global Times, Rabu (11/3/2026), pakar industri nuklir Tiongkok Wang Mingdan memberikan penilaian realistis mengenai garis waktu teknologi tersebut. “Berdasarkan pengetahuan dan kemampuan teknologi saat ini, mencapai kontrol fusi nuklir akan memerlukan setidaknya 20 hingga 30 tahun lagi,” ujar Wang.

Wang merupakan anggota Komite Nasional ke-14 Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok sekaligus presiden Shanghai Nuclear Engineering Research and Design Institute yang berada di bawah perusahaan energi milik negara State Power Investment Corporation. Menurutnya, fusi nuklir memang secara luas dianggap sebagai jalur teknologi yang sangat menjanjikan, tetapi ekspektasi publik terhadap kecepatannya sering kali terlalu tinggi.

Wang menjelaskan bahwa saat ini bidang fusi nuklir masih berada dalam tahap peralihan dari penelitian dasar menuju pengembangan fasilitas ilmiah berskala besar. Artinya, para ilmuwan masih berupaya menyempurnakan teknologi inti sebelum sistem tersebut dapat dioperasikan secara stabil dalam skala pembangkit listrik.

Selain itu, Wang menilai terobosan awal dalam riset fusi nuklir mungkin muncul lebih cepat dalam bentuk kemajuan teknologi tertentu atau penerapan terbatas. “Namun, jika tujuannya adalah pembangkit listrik komersial, hal itu masih akan memakan waktu yang lama,” ujar Wang.

Meski demikian, kompetisi riset tetap berlangsung sengit di berbagai negara. Dalam lima tahun terakhir, Tiongkok mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur ilmiah berskala besar yang berkaitan dengan teknologi energi dan material canggih, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua pada Desember 2025.

Salah satu proyek penting di bidang ini adalah Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST) yang tengah dibangun di Provinsi Anhui. Fasilitas eksperimen yang sering dijuluki sebagai “matahari buatan” ini dijadwalkan selesai pada akhir 2027 dan dirancang untuk menguji kemungkinan demonstrasi pertama pembangkitan listrik berbasis energi fusi.

Meski proyek-proyek ambisius terus dikembangkan, sejumlah pakar internasional tetap menilai jalan menuju reaktor fusi komersial masih panjang. Ilmuwan energi dari Australia, Mark Diesendorf, misalnya, menyatakan bahwa bahkan setelah eksperimen awal berhasil, transisi menuju reaktor fusi nuklir komersial tetap memerlukan waktu puluhan tahun. “Untuk bergerak dari eksperimen itu ke reaktor fusi nuklir komersial dapat memakan waktu setidaknya 25 tahun,” ujarnya.

Pada akhirnya, pengembangan fusi nuklir bukan hanya persoalan sains, tetapi juga strategi energi global jangka panjang. Jika suatu negara berhasil memimpin teknologi ini, dampaknya dapat mengubah peta kekuatan energi dunia. Namun hingga saat itu benar-benar terwujud, para ilmuwan menilai bahwa kesabaran dan investasi riset jangka panjang tetap menjadi kunci utama.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore