
Mark Zuckerberg, Lauren Bezos, Jeff Bezos, Sundar Pichai, dan Elon Musk. Foto: (The Guardian)
JawaPos.com — Dalam tiga dekade terakhir, peta kekayaan global berubah secara mendasar. Jika pada awal 1990-an daftar orang terkaya dunia didominasi pemilik industri, properti, dan ritel, kini posisi teratas justru dikuasai para raksasa teknologi yang tidak hanya mengendalikan pasar, tetapi juga berpengaruh pada arah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan masa depan peradaban manusia.
Perubahan tersebut menandai pergeseran kekuasaan ekonomi global dari konglomerat tradisional menuju oligarki teknologi. Para miliarder teknologi tidak sekadar membangun perusahaan bernilai raksasa, melainkan juga mempromosikan visi ambisius tentang masa depan manusia yang semakin menyatu dengan kecerdasan digital.
Dilansir dari The Guardian, Senin (9/3/2026), fenomena ini terlihat jelas jika menilik sejarah daftar orang terkaya dunia. Ketika Bill Gates pertama kali muncul sebagai mogul teknologi modern di puncak kekayaan global pada 1992, daftar miliarder masih sangat beragam—mulai dari konglomerat industri hingga pemilik jaringan ritel.
Pada masa itu, gabungan kekayaan 10 orang terkaya dunia hampir mencapai 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.691 triliun (dengan kurs Rp 16.910 per dolar AS). Nilai tersebut setara sekitar 0,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat pada tahun yang sama.
Namun tiga dekade kemudian lanskapnya berubah drastis. Pada 2025, daftar teratas miliarder dunia didominasi tokoh teknologi seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Larry Ellison, Steve Ballmer, serta pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page. Kekayaan gabungan 10 orang terkaya itu melonjak menjadi lebih dari 16 triliun dolar AS atau sekitar Rp 270.560 triliun, setara hampir 8 persen dari PDB Amerika Serikat.
Lonjakan tersebut mencerminkan betapa cepat teknologi digital merevolusi ekonomi global. Namun di sisi lain, konsentrasi kekayaan dan kekuasaan teknologi pada segelintir individu juga memunculkan pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya menentukan arah perkembangan kecerdasan buatan yang akan memengaruhi kehidupan manusia di masa depan.
Pendiri Google, Larry Page, misalnya, pernah menyampaikan pandangannya tentang masa depan kecerdasan berbasis teknologi. Dia menyatakan bahwa “kehidupan digital merupakan langkah berikutnya yang alami dan diinginkan dalam evolusi kosmik umat manusia.” Dia menambahkan, “jika kita membiarkan pikiran digital berkembang secara bebas, alih-alih mencoba menghentikan atau mengendalikannya, hasil akhirnya hampir pasti akan membawa kebaikan.”
Pandangan tentang evolusi kecerdasan digital juga disampaikan oleh Sam Altman, pemimpin perusahaan pengembang AI OpenAI. Menurutnya, “manusia akan menjadi spesies pertama yang merancang keturunannya sendiri.” Altman bahkan menilai manusia “dapat menjadi ‘pemuat awal biologis’ bagi kecerdasan digital lalu menghilang dalam cabang evolusi, atau menemukan cara untuk berhasil bergabung dengannya.”
Di sisi lain, sejumlah tokoh teknologi juga tengah mengembangkan proyek yang berupaya memperluas batas kemampuan manusia. Elon Musk, melalui perusahaan Neuralink, berupaya menghubungkan otak manusia dengan sistem kecerdasan buatan. Sementara Mark Zuckerberg mengarahkan kegiatan filantropinya pada riset yang bertujuan memperpanjang umur manusia, sedangkan investor teknologi Peter Thiel diketahui berencana membekukan tubuhnya secara kriogenik untuk kemungkinan dihidupkan kembali di masa depan.
Meski demikian, visi futuristik para oligarki teknologi tersebut menuai kritik. Para pengamat menilai fokus mereka pada masa depan berbasis AI sering kali mengabaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat saat ini, mulai dari akses perumahan hingga layanan kesehatan dan biaya hidup yang layak.
Laporan yang sama juga mencatat bahwa hampir 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,38 triliun telah diarahkan untuk melobi agar sejumlah negara bagian di Amerika Serikat tidak menerapkan regulasi ketat terhadap pengembangan AI. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa teknologi yang sangat berpengaruh terhadap masa depan manusia berkembang tanpa pengawasan demokratis yang memadai.
Pada akhirnya, pergeseran dari era Bill Gates menuju generasi baru miliarder teknologi seperti Elon Musk menandai babak baru dalam sejarah ekonomi global. Bukan sekadar soal kekayaan, tetapi juga tentang bagaimana segelintir individu di puncak kekuasaan teknologi kini memiliki kemampuan yang belum pernah terjadi sebelumnya: membentuk arah perkembangan kecerdasan buatan sekaligus masa depan peradaban manusia.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
