Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth (kiri) menyimak Jacob DeWitte, CEO Oklo, saat Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempercepat pengembangan nuklir generasi baru (Fortune)
JawaPos.com - Gelombang baru kebijakan energi Amerika Serikat (AS) sedang bergeser dari logika transisi hijau yang lambat menuju logika daya saing teknologi. Di titik temu antara kecerdasan buatan (AI), pusat data raksasa, dan keamanan energi, nuklir generasi baru kembali diposisikan bukan sekadar sumber listrik, melainkan instrumen kekuatan ekonomi dan geopolitik.
Seiring melonjaknya kebutuhan listrik perusahaan pengelola pusat data dalam skala sangat besar, terutama Meta, pasar energi AS bergeser ke fase yang lebih strategis. Big Tech kini bukan lagi pembeli listrik pasif, melainkan aktor utama yang membentuk infrastruktur energi masa depan melalui aliansi jangka panjang dengan pengembang nuklir generasi baru.
Melansir dari Fortune, Senin (9/2/2026), titik balik ini lahir dari pertemuan tiga kekuatan sekaligus: inovasi reaktor modular kecil (small modular reactors/SMR), ledakan kebutuhan listrik akibat ekspansi AI, dan pelonggaran perizinan nuklir di era Donald Trump, kombinasi yang secara efektif menghidupkan kembali industri nuklir AS setelah bertahun-tahun stagnan.
Pada Januari 2026, Meta mengumumkan kemitraan strategis dengan TerraPower milik Bill Gates dan Oklo yang pernah dipimpin Sam Altman untuk mengembangkan sekitar 4 gigawatt proyek SMR, cukup untuk memasok listrik hampir tiga juta rumah serta mendukung kampus AI raksasa "Prometheus: di Ohio.
Langkah Meta dipandang sebagai tembakan pembuka bagi industri teknologi besar. Kepala riset teknologi Wedbush Securities, Dan Ives, menegaskan, "Ini adalah tembakan pertama melintasi haluan; saya akan terkejut jika setiap perusahaan Big Tech tidak membuat langkah strategis di bidang nuklir pada 2026, baik lewat kemitraan maupun akuisisi."
Sementara itu, TerraPower, di bawah kepemimpinan Chris Levesque, tengah membangun pembangkit SMR berkapasitas 345 megawatt di Kemmerer, Wyoming, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2031.
Melalui kesepakatan dengan Meta, perusahaan ini juga berencana mengoperasikan dua reaktor tambahan pada 2032, dengan opsi enam unit modular berikutnya sehingga total potensi kapasitasnya dapat mencapai 2,8 gigawatt.
Pertama, Levesque menilai perubahan ini menuntut pergeseran cara berpikir industri nuklir.
"Rekor keselamatan nuklir Amerika Serikat memang sangat baik, tetapi kultur itu justru membuat inovasi terasa berisiko. Kini kami memilih bertanya apa yang memungkinkan menurut ilmu pengetahuan dan hukum alam, bukan sekadar mengulang metode lama," katanya.
Selanjutnya, Oklo yang didirikan Jacob dan Caroline DeWitte pada 2013 berencana membangun fasilitas nuklir besar di Pike County, Ohio, dengan kapasitas hingga 1,2 gigawatt pada 2034. Dalam konteks ini, DeWitte melihat peran perusahaan pusat data skala besar sebagai penggerak utama perubahan.
"Perusahaan pengelola pusat data adalah konsumen listrik terbesar saat ini, dan mereka mulai menyadari bahwa pasar energi nuklir benar-benar nyata serta bisa dipercepat," ujarnya.
Sejalan dengan itu, secara teknis baik TerraPower maupun Oklo beralih dari reaktor berpendingin air ke sistem berpendingin sodium bertekanan rendah yang lebih aman dan lebih efisien biaya. Levesque menekankan bahwa prinsip dasarnya tetap sama, tetapi desainnya berubah.
"Kami masih menggunakan fisi nuklir untuk menghasilkan panas dan listrik, namun dengan pendingin logam cair yang membuat fasilitas lebih ringan, lebih sederhana, dan lebih efisien," jelasnya.
Di sisi lain, Amerika Serikat masih bergantung pada pasar pengayaan uranium global yang hampir separuhnya dikuasai Rusia. Karena itu, Oklo mengembangkan teknologi daur ulang bahan bakar dan membangun fasilitas senilai USD 1,7 miliar atau sekitar Rp 25,36 triliun dengan kurs Rp 16.870 per dolar AS di Oak Ridge, Tennessee. Bagi DeWitte, langkah ini bersifat strategis.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022