Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Juni 2020 | 19.00 WIB

WHO Sebut Negara Miskin Krisis Pasokan Oksigen untuk Pasien Covid-19

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Salah satu fasilitas kesehatan paling dibutuhkan selama pandemi Covid-19 adalah oksigen. Tabung oksigen menjadi kebutuhan medis paling berharga untuk menyelamatkan pasien. Sayangnya, oksigen kini menjadi barang langka bagi negara-negara miskin.

Banyak pasien Covid-19 yang parah membutuhkan bantuan pernapasan. Negara-negara miskin memiliki banyak rumah sakit yang tidak dilengkapi ventilator, tank, dan peralatan lain yang diperlukan untuk menyelamatkan pasien jika paru-parunya gagal berfungsi seperti biasa.

Dilansir dari New York Times, Jumat (26/6), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berharap dapat mengumpulkan USD 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun untuk meningkatkan pengiriman oksigen ke wilayah-wilayah tersebut. Bank Dunia dan Uni Afrika berkontribusi untuk upaya ini, dan beberapa badan amal medis mencari sumbangan untuk tujuan tersebut.

Diperkirakan dunia akan membutuhkan 620 ribu meter kubik oksigen per hari atau 88 ribu tabung silinder besar.

Beruntung, WHO, UNICEF, dan Yayasan Bill & Melinda Gates pada 2017 mulai mencari cara untuk meningkatkan pengiriman oksigen di negara-negara miskin dan menengah bukan untuk mengantisipasi pandemi, tetapi karena oksigen dapat menyelamatkan nyawa para pasien pneumonia. Organisasi-organisasi itu mulai memesan peralatan pada Januari, tetapi dalam beberapa minggu pemasok tiba-tiba dibanjiri oleh lonjakan permintaan akibat pandemi.

WHO telah membeli 14 ribu konsentrator oksigen yang menyaring oksigen dari udara, untuk dikirim ke 120 negara. Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan situasi yang dialami negara miskin saat ini.

"80 persen pasar dimiliki oleh hanya beberapa perusahaan, dan permintaan melebihi pasokan," paparnya.

Meski mesin yang dibutuhkan untuk menghasilkan oksigen relatif sederhana, tapi harus cukup kuat untuk menahan debu dan kelembaban. Permintaan yang melonjak membuat harga oksigen naik. Tantangan lain adanya pembatasan penerbangan internasional yang mempersulit pengiriman.

Perwakilan badan amal di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, Dr. Baweye Mayoum Barka, mengungkapkan kondisi serupa. Permintaan oksigen melebihi pasokan yang tersedia.

"Jadi, sayangnya, ada 26 kematian, 70 persen dari mereka meninggal dalam waktu kurang dari 24 jam. Bukan berarti semuanya kekurangan oksigen, tetapi itu salah satu faktor," katanya.

Di Kongo, banyak pasien Covid-19 tiba di rumah sakit dengan tingkat oksigen darah sangat rendah. Kadang-kadang serendah 60 persen, tingkat di mana pasien biasanya harus memakai ventilator untuk bertahan hidup. (Tingkat saturasi oksigen normal adalah 95 persen atau lebih.)

"Kemudian, ketika kondisinya memburuk, dia mengalami kejang-kejang," kenang Dr. Barka.

"Nigeria juga bergulat dengan kekurangan oksigen, kata Kepala Kesehatan UNICEF Nigeria Dr. Sanjana Bhardwaj.

Sejak Mei, rumah sakit di Lagos dan Kano telah melihat pasien lansia dengan Covid-19 paling membutuhkan oksigen. Ventilator jarang ditemukan di negara-negara miskin. Harganya bisa mencapai USD 50 ribu atau setara Rp 700 juta. Dan juga membutuhkan ahli anestesi dan teknisi pernapasan yang terlatih.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=7EOKPMZvfqE

https://www.youtube.com/watch?v=hMO48-gB5WI

https://www.youtube.com/watch?v=tkiyPoh5HBY

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore