
Kota laba-laba ditemukan di sebuah goa di perbatasan Albania dan Yunani, yang diperkirakan dihuni sekitar 110.000 makhluk kecil tersebut. (Subterranean Biology)
JawaPos.com - Penemuan menakjubkan terjadi di perbatasan Albania dan Yunani. Sebuah jaring laba-laba raksasa yang diklaim sebagai yang terbesar di dunia ditemukan membentang di dalam gua gelap.
Fenomena ini membuat para ilmuwan tercengang. Bukan hanya karena ukurannya, tapi karena ribuan laba-laba di dalamnya hidup rukun tanpa saling memangsa.
Dikutip dari CBS News, jaring ini ditemukan di dalam Gua Sulfur, sebuah lorong sempit yang melintasi dua negara.
Luas jaringnya mencapai 1.140 kaki persegi, menyelimuti dinding gua layaknya karpet tebal yang kokoh.
Diperkirakan ada sekitar 110.000 laba-laba yang menghuni koloni raksasa ini. Bagi penderita arachnophobia, tempat ini mungkin tampak seperti mimpi buruk, namun bagi sains, ini adalah harta karun evolusi.
Ahli biologi evolusi Lena Grinsted dari Universitas Portsmouth menyebut temuan ini sangat langka. "Ketika saya melihat penelitian ini, saya sangat gembira karena hidup berkelompok sangat jarang terjadi pada laba-laba," ujarnya.
Hal yang paling tidak lazim adalah koloni ini dihuni oleh dua spesies berbeda: Tegenaria domestica (laba-laba rumah) dan Prinerigone vagans yang berukuran lebih kecil. Biasanya, laba-laba adalah makhluk soliter yang agresif dan kanibal.
Namun, di kegelapan Gua Sulfur, hukum alam seolah berubah. "Sering kali jika ada laba-laba di sekitar, mereka akan berkelahi dan akhirnya saling memakan," ujar Grinsted. Nyatanya, di sini mereka justru berbagi ruang dengan damai.
Mengapa mereka tidak saling serang? Kuncinya ada pada ketersediaan makanan. Ada sekitar 2,4 juta lalat chironomid yang menjadi sumber nutrisi tak terbatas bagi para laba-laba ini.
Selain itu, keterbatasan penglihatan laba-laba di kegelapan total turut berpengaruh. "Laba-laba, secara umum, tidak terlalu pandai melihat sesuatu," jelas Grinsted.
Mereka hanya merespons getaran. Selama laba-laba kecil tidak memicu getaran mangsa, laba-laba besar akan mengabaikan mereka.
Blerina Vrenozi, ahli biologi dari Universitas Tirana, menggambarkan tekstur jaring tersebut yang sangat rapat. "Jaringnya lebih seperti selimut," ujarnya.
Penelitian juga mengungkap fakta mengejutkan dari sisi genetika. Meski spesiesnya umum ditemukan, laba-laba gua ini memiliki profil DNA yang unik.
"Spesiesnya sama, tetapi DNA-nya berbeda," kata Vrenozi. Hal ini mengindikasikan adanya adaptasi khusus terhadap lingkungan gua yang ekstrem.
Marek Audy, speleolog asal Ceko yang pertama kali menemukan situs ini pada 2021, mencatat bahwa laba-laba gua bertelur lebih sedikit dibanding kerabat mereka di luar ruangan.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
