
Ribuan satelit Starlink di orbit rendah menjadi kunci bagi komunikasi dan operasi militer Ukraina dalam menghadapi invasi skala penuh Rusia. (NBCDFW)
JawaPos.com — Intelijen Barat mencurigai Rusia tengah mengembangkan senjata antariksa generasi baru yang secara khusus ditujukan untuk melumpuhkan jaringan satelit Starlink milik Elon Musk.
Kecurigaan ini mempertegas bagaimana ruang angkasa kian menjadi medan kontestasi strategis, seiring peran vital teknologi komersial, yang juga dikembangkan oleh tokoh-tokoh teknologi global seperti Musk dan Jeff Bezos, dalam geopolitik modern.
Temuan intelijen yang dilihat The Associated Press (AP) menunjukkan bahwa dua badan intelijen negara anggota NATO mencurigai Rusia tengah mengembangkan senjata antariksa yang dikenal sebagai zone-effect weapon.
Sistem ini diperkirakan bekerja dengan menyebarkan ratusan ribu fragmen logam mikro berdensitas tinggi ke orbit rendah Bumi, sehingga membentuk awan serpihan yang berpotensi merusak atau melumpuhkan banyak satelit secara bersamaan, terutama jaringan satelit Starlink.
Dilansir dari NBCDFW, Rabu (24/12/2025), laporan tersebut menyoroti kekhawatiran bahwa senjata semacam ini tidak hanya mengancam aset komersial milik Barat, tetapi juga berpotensi memicu kekacauan luas di orbit Bumi. Starlink, dengan ribuan satelitnya, selama ini menjadi tulang punggung komunikasi Ukraina di medan perang, mulai dari koordinasi militer hingga layanan internet sipil ketika infrastruktur darat lumpuh akibat serangan Rusia.
Namun, sejumlah analis meragukan kelayakan senjata tersebut. Victoria Samson, pakar keamanan antariksa dari Secure World Foundation, menyatakan dengan skeptis,
“Saya benar-benar tidak percaya. Terus terang, saya akan sangat terkejut jika Rusia benar-benar melakukan hal seperti itu," ujarnya. Menurutnya, dampak kolateralnya akan terlalu besar dan sulit dikendalikan.
Pandangan lebih hati-hati disampaikan Brigadir Jenderal Christopher Horner, Komandan Divisi Antariksa militer Kanada. Dia menilai skenario tersebut tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan.
“Saya tidak bisa mengatakan pernah mendapat pengarahan tentang sistem seperti itu. Tetapi ini bukan hal yang tidak masuk akal,” katanya.
Horner menambahkan, jika Rusia bersedia mengembangkan senjata nuklir berbasis antariksa, maka “sesuatu yang sedikit di bawah itu, tetapi sama merusaknya, masih berada dalam kemampuan pengembangan mereka.”
Sementara itu, hingga kini Kremlin belum memberikan tanggapan resmi atas temuan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, tidak menjawab permintaan komentar dari The Associated Press. Namun, Rusia sebelumnya justru menyerukan upaya di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencegah penempatan senjata di orbit, dan Presiden Vladimir Putin berulang kali menyatakan bahwa Moskow tidak berniat menempatkan senjata nuklir di ruang angkasa.
Di tengah sikap resmi tersebut, intelijen Barat menilai Starlink dipandang Rusia sebagai ancaman serius. Ribuan satelit di orbit rendah Bumi itu memungkinkan komunikasi cepat dan relatif aman bagi militer Ukraina.
Sejalan dengan penilaian itu, Rusia juga telah menyatakan bahwa satelit komersial yang mendukung operasi militer Ukraina dapat dianggap sebagai target yang sah, serta mengklaim telah mengoperasikan sistem rudal darat S-500 yang disebut mampu menjangkau target di orbit endah.
Berbeda dengan uji coba Rusia pada 2021 yang menghancurkan satelit peninggalan era Perang Dingin menggunakan satu rudal, sistem yang kini dikembangkan dirancang untuk menyerang banyak target secara bersamaan. Fragmen logam mikro berukuran milimeter yang dilepaskan ke orbit, menurut laporan intelijen, berpotensi sulit dideteksi oleh sistem pemantauan darat maupun antariksa, sehingga menyulitkan penelusuran pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan satelit.
Clayton Swope, analis keamanan antariksa dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengingatkan besarnya risiko sistem tersebut.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022