
Ilustrasi: dampak serangan terbaru Israel di Gaza Palestina. (ANSA)
JawaPos.com - Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak. Sedikitnya 100 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam wilayah padat penduduk sejak Selasa malam hingga Rabu dini hari.
Otoritas setempat menyebut serangan ini sebagai eskalasi paling mematikan sejak kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober lalu.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza mengatakan, rudal-rudal Israel menghantam rumah-rumah penduduk dan tenda pengungsian yang menampung ribuan warga yang sebelumnya telah kehilangan tempat tinggal. Dari total korban tewas, 35 di antaranya adalah anak-anak.
Militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa mereka melancarkan 'serangkaian serangan terhadap puluhan target teroris dan anggota kelompok militan'.
Namun, laporan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil yang tidak bersenjata.
Mengutip Vatican News, serangan besar-besaran ini disebut sebagai balasan atas serangan terhadap kendaraan militer Israel di Rafah yang menewaskan satu tentara cadangan pada Selasa sore.
Pemerintah Israel menuding Hamas sebagai dalang, namun kelompok itu membantah terlibat dalam insiden tersebut.
Selain itu, di tengah meningkatnya kekerasan, pemerintah Israel juga melarang Komite Palang Merah Internasional (ICRC) untuk mengunjungi tahanan Palestina yang ditahan berdasarkan undang-undang yang mengklasifikasikan mereka sebagai 'kombatan ilegal'.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz beralasan bahwa pembatasan ini dilakukan atas dasar pertimbangan keamanan nasional.
Namun langkah tersebut mendapat kecaman luas dari kelompok HAM yang menilai keputusan itu melanggar prinsip kemanusiaan internasional.
Menurut data Israel Prison Service yang dikutip lembaga HAM Israel HaMoked, hingga Oktober lalu ada 2.673 warga Palestina yang ditahan tanpa proses pengadilan di bawah status hukum tersebut.
Peningkatan kekerasan ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah kronis di Gaza. Rumah sakit kewalahan menangani korban, sementara pasokan listrik dan bahan bakar terus menipis akibat blokade.
“Setiap kali ada serangan, bukan hanya nyawa yang hilang, tapi juga harapan,” kata seorang relawan medis di Khan Younis.
Para analis menilai bahwa tindakan terbaru Israel ini menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata dan ketegangan politik yang belum tuntas di kawasan.
“Setiap eskalasi baru hanya memperdalam luka dan memperpanjang siklus kekerasan,” ujar seorang peneliti Timur Tengah di Universitas Tel Aviv.

Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 MenitÂ
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Jude Bellingham Ungkap Adu Argumennya dengan Lionel Messi saat Inggris Tumbang dari Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
3 Fakta Statistik yang Untungkan Spanyol Kalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente Punya Pola Juara
