Poster yang menggambarkan Red Guards bersorak di sekitar Mao Zedong (Dok. Association for Asian Studies)
JawaPos.com - Revolusi Kebudayaan atau The Great Proletarian Cultural Revolution merupakan periode panjang penuh gejolak politik dan sosial yang mengguncang Tiongkok selama satu dekade. Peristiwa ini bermula dari upaya Mao Zedong untuk kembali menegaskan kendalinya atas Partai Komunis Tiongkok dengan mengerahkan massa.
Dikutip dari The Guardian, kekacauan besar yang dimulai pada Mei 1966 ini, kini banyak diinterpretasikan oleh para sejarawan sebagai langkah strategis Mao untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya dengan menggunakan rakyat untuk melawan partai. Media massa milik negara kala itu menggambarkan gerakan ini sebagai perjuangan besar yang akan mendorong semangat baru bagi sosialisme.
Sebuah editorial menulis, "Seperti matahari merah yang terbit di timur, Revolusi Kebudayaan Proletar Besar yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menerangi seluruh negeri dengan sinarnya yang cemerlang." Namun, kenyataannya jauh dari gambaran heroik itu. Revolusi Kebudayaan justru melemahkan perekonomian, menghancurkan jutaan kehidupan, dan menjerumuskan Tiongkok ke dalam kekacauan, kelaparan, serta kelumpuhan selama sepuluh tahun penuh.
Awal Mula dan Jalannya Revolusi
Menurut Encyclopedia Britannica, Revolusi Kebudayaan secara resmi diluncurkan pada Sidang Pleno ke-11 Komite Sentral Partai Komunis ke-8 pada Agustus 1966, meski sebenarnya telah dimulai sejak Mei tahun yang sama. Pada tahap awal, gerakan ini berfokus pada lembaga-lembaga pendidikan. Mao menggalang dukungan dari kalangan muda, terutama para pelajar dan mahasiswa, yang kemudian membentuk kelompok-kelompok Red Guards atau "Pengawal Merah."
Kelompok-kelompok ini digerakkan melalui mobilisasi massal dengan tujuan memburu siapa pun yang dianggap tidak revolusioner atau memiliki kecenderungan borjuis. Dengan pengawasan yang minim, aksi mereka segera berubah menjadi teror. Ribuan pendidik, intelektual, dan pejabat partai disiksa, dipermalukan di muka umum, bahkan dibunuh. Mereka yang mengenakan pakaian bergaya Barat atau dicurigai mendukung nilai-nilai imperialis pun menjadi sasaran kekerasan di jalanan.
Kekacauan yang terjadi membuat pihak berwenang akhirnya berusaha menertibkan Pengawal Merah, namun kekerasan dan anarki sudah terlanjur menyebar luas. Revolusi ini juga mengguncang elit politik Tiongkok. Pejabat tinggi seperti Deng Xiaoping dan Lin Biao silih berganti, tergantung pada arah kebijakan Mao.
Akhir Revolusi dan Jumlah Korban
Revolusi Kebudayaan akhirnya berakhir pada musim gugur tahun 1976, tidak lama setelah wafatnya Mao Zedong pada September tahun itu, disusul kejatuhan kelompok radikal pendukungnya yang dikenal sebagai Gang of Four pada bulan berikutnya. Secara resmi, Partai Komunis Tiongkok menyatakan berakhirnya Revolusi Kebudayaan pada Agustus 1977 dalam Kongres Partai ke-11.
Seperti dilaporkan Britannica, jumlah korban jiwa diperkirakan mencapai 500.000 hingga 2 juta orang, sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi atau dipindahkan secara paksa. Ekonomi negara hancur total, lembaga-lembaga pendidikan lumpuh, dan kehidupan sosial nyaris berhenti.
Dampak Sosial dan Budaya yang Mendalam
Dalam artikel berjudul Chinese Cultural Revolution karya Fan A. Shen, disebutkan bahwa kehancuran sistem pendidikan selama satu dekade Revolusi Kebudayaan, serta upaya penghapusan nilai-nilai Konfusianisme, menciptakan satu generasi muda Tiongkok yang tumbuh tanpa pendidikan formal memadai dan kehilangan akar budaya mereka sendiri. Dampak ini masih terasa hingga puluhan tahun kemudian.
Namun di sisi lain, kekacauan politik selama Revolusi Kebudayaan justru menimbulkan efek tak terduga yaitu, melemahnya keyakinan publik terhadap ideologi komunis. Setelah periode itu berakhir, muncul kebebasan intelektual yang belum pernah terlihat sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, meskipun kritik langsung terhadap pemerintah tetap dilarang.
Baca Juga: Moribayassa: Tarian Penyembuhan Perempuan Malinke di Guinea

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
