Ilustrasi menunjukkan ekspansi teknologi reaktor modular kecil: Rusia membangun SMR darat, India tengah mengembangkan Bharat SMR (Dok. Rest of World)
JawaPos.com - Lonjakan kebutuhan energi bersih dan andal untuk mendukung revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pembelajaran mesin (Machine Learning/ML) mendorong dunia mencari solusi baru.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah small modular reactors (SMR) atau reaktor nuklir modular kecil, teknologi yang dinilai mampu menjawab tantangan energi masa depan dengan lebih fleksibel dan ramah lingkungan.
SMR, yang umumnya menghasilkan di bawah 300 megawatt listrik, dirakit di pabrik dan dapat dipasang lebih cepat dibandingkan pembangkit konvensional. Keunggulannya membuat teknologi ini ideal untuk memasok energi ke pulau terpencil, kawasan industri, hingga pusat data.
Dilansir dari NDTV, Selasa (30/9/2025), Direktur Proyek Rosatom untuk Asia Selatan, Dr. Alexander Volgin, menjelaskan, "Ketika kita berbicara tentang SMR, maksudnya adalah reaktor modular kecil. 'Small' berarti ukurannya lebih ringkas dibandingkan pembangkit nuklir konvensional, sementara 'modular' berarti dapat dirakit di pabrik dan bisa diangkut sebagai satu unit."
Rusia kini menjadi salah satu pemain utama. Berbeda dengan proyek besar seperti Kudankulam di Tamil Nadu, SMR Rusia hanya membutuhkan lahan sekitar 15–17 hektare.
"Reaktor ini menyatukan pompa, generator uap, dan bahan bakar nuklir dalam satu unit. Reaktor ini menghasilkan uap yang kemudian menggerakkan turbin terpisah," ujarnya.
Satu unit SMR Rusia dapat menghasilkan 55 MW listrik dan hingga 200 MW energi panas, dengan bahan bakar uranium yang diperkaya hingga 20 persen.
"Reaktor ini benar-benar kecil, bahkan bisa diangkut dengan kereta api. Ini ideal untuk wilayah terpencil, pulau, atau lokasi yang masih mengandalkan diesel," tambah Volgin. Saat ini, Rusia tengah membangun SMR darat di Yakutia dan menandatangani kontrak enam unit dengan Uzbekistan.
Sementara itu, Tiongkok sudah selangkah lebih maju dengan mengoperasikan reaktor modular darat berkapasitas 100 MW sebagai proyek percontohan.
"Sekarang ada dorongan besar. Hampir semua negara mengembangkan SMR, mulai dari Prancis, Amerika Serikat, hingga Tiongkok. Namun Rusia adalah pionir karena telah memakai reaktor kecil di kapal pemecah es sejak 1950-an," tutur Volgin.
India pun mempercepat ambisinya. Perdana Menteri Narendra Modi menargetkan kapasitas nuklir 100 gigawatt sebagai bagian dari strategi energi hijau.
"Jika Departemen Energi Atom dan BARC (Bhabha Atomic Research Centre) mengundang kami, tentu kami akan dengan senang hati bekerja sama dalam pengembangan Bharat SMR," tegas Volgin.
Kolaborasi juga melibatkan sektor industri. "Kami sedang membangun rantai pasok di India dan berdiskusi dengan pemerintah serta Departemen Energi Atom mengenai lokalisasi dan SMR," ungkapnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
