
Ilustrasi truk listrik kelas berat buatan Tiongkok sedang beroperasi, simbol dominasi industri EV Tiongkok di pasar global (Dok. Rest of World)
JawaPos.com - Setelah berhasil menyalip Tesla dalam penjualan mobil listrik, Tiongkok kini mengincar pasar truk angkutan listrik. Raksasa otomotif BYD bersama delapan perusahaan lain asal Negeri Tirai Bambu menguasai sekitar 80 persen dari total 90.000 penjualan truk listrik global pada 2024, menurut Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA).
Dilansir dari Rest of World, Selasa (30/9/2025), truk listrik buatan BYD kini telah diekspor ke Italia, Polandia, Spanyol, hingga Meksiko. Sany Group, produsen teratas di segmen truk listrik kelas berat, terus memperluas jangkauan ke pasar global dengan perkiraan pangsa pasar mencapai 70 hingga 80 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Bill Russo, pendiri sekaligus CEO Automobility Limited di Shanghai, menilai keunggulan Tiongkok terletak pada skala produksi dan efisiensi biaya. “Mereka membawa daya saing harga, keahlian manufaktur, serta teknologi yang terbukti. Dalam banyak hal, mereka menjadi enabler bagi operator armada global yang ingin melakukan dekarbonisasi tetapi tidak memiliki pemasok lokal dalam skala besar,” ujarnya.
Kebijakan pemerintah juga menjadi faktor kunci. Selama 15 tahun terakhir, Beijing menjadikan kendaraan komersial listrik sebagai prioritas nasional dengan kewajiban produsen memproduksi EV dalam porsi tertentu. Berbeda dengan negara Barat yang hanya menawarkan insentif pajak bagi pembeli individu. Alhasil, operator di Tiongkok melaporkan biaya operasional truk listrik 10 hingga 26 persen lebih murah dibandingkan model diesel.
Dukungan regulasi juga diperkuat oleh kehadiran pemain besar di sektor baterai. Perusahaan baterai terbesar dunia, CATL, bahkan mengklaim dapat menurunkan biaya transportasi hingga 35 persen per ton-kilometer. Pendiri CATL, Robert Zeng, menargetkan separuh pasar truk komersial Tiongkok akan beralih ke listrik pada 2028.
Namun, adopsi global masih timpang. Di India, dari lebih 834.000 truk komersial yang terjual tahun lalu, hanya 280 unit yang bertenaga listrik. Di Eropa, pangsa pasar truk listrik masih sekitar 1 persen. Tesla yang sempat menjanjikan revolusi lewat model Semi sejak 2017 pun nyaris menghilang akibat masalah komponen, keterbatasan jarak tempuh, dan biaya tinggi.
Volvo, produsen truk terbesar di Eropa, juga menghadapi jalan terjal. Perusahaan ini baru berhasil mengirim sekitar 5.000 unit truk listrik ke 50 negara. Bahkan di Afrika Selatan, setelah dua tahun masuk pasar, Volvo hanya menjual enam unit—jumlah yang terlalu kecil untuk mendukung perakitan lokal. Tanpa subsidi pembelian, harga truk listrik tetap tidak terjangkau bagi sebagian besar operator.
Selain itu, tantangan terbesar bagi negara lain adalah infrastruktur. Menurut Amit Bhatt dari International Council on Clean Transportation, "Tanpa jaringan pengisian yang andal dan strategis di sepanjang koridor logistik, adopsi akan menghadapi hambatan besar. Jika infrastruktur dibangun sejak dini, peralihan menuju angkutan bersih bisa lebih cepat dan hemat biaya."
Tiongkok mengatasi masalah tersebut dengan teknologi tukar baterai pada hampir 40 persen truk berat listriknya. Model ini mempercepat operasional tanpa menunggu waktu pengisian panjang, sesuatu yang sulit diterapkan di India, Brasil, maupun pasar negara berkembang lainnya.
"Pelajaran pentingnya adalah elektrifikasi berhasil jika didukung kebijakan searah, investasi ekosistem, dan insentif pasar akhir," kata Russo. "Namun, sulit bagi negara lain meniru kecepatan Tiongkok yang memiliki skala industri besar, rantai pasok terintegrasi, serta koordinasi kebijakan dari atas ke bawah."
Dengan langkah agresif BYD, Sany, hingga Beiqi Foton, para analis memprediksi produsen Tiongkok berpotensi mendisrupsi pasar global truk listrik, sebagaimana sebelumnya terjadi pada mobil dan bus listrik.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
