
Bayan Ali Muhammad Hassan, mahasiswa baru Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang berasal dari Gaza, Palestina. (Humas UIII)
JawaPos.com - Bayan Ali Muhammad Hassan, mahasiswa magister Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) asal Gaza, Palestina, menyebut bahwa tak ada tempat aman di tanah kelahirannya saat ini. Sejak penjajahan oleh Israel di tanah Palestina, keluarganya hidup dalam serba kekurangan.
Saat ini, Bayan Ali terpaksa meninggalkan keluarganya--orang tua, istri, dan lima anaknya di Gaza untuk menempuh pendidikan di Indonesia.
"Tidak ada aman sama sekali, dimanapun tidak ada aman. Meskipun mereka mengungsi dari Gaza Selatan ke Gaza Utara, tapi tidak ada tempat yang aman," ujarnya kepada JawaPos.com, Jumat (19/9).
Saat ini, ia menerangkan bahwa keluarga yang ada di Gaza hidup dalam serba kekurangan akibat serangan zionis Israel. Tak ada rumah, mereka pun tinggal di bawah tenda pengungsian tanpa fasilitas yang memadai.
"Kurang minum, kurang air di sana, semuanya kurang makanannya juga. Sangat-sangat terbatas, kadang mereka tidak makan satu hari, kadang makan satu hari satu kali," tutur Ibrahim.
Dengan kondisi Gaza yang masih dibayang-bayangi ketakutan, Abu Ali berharap agar keluarganya juga dapat segera dievakuasi ke Indonesia dan tinggal bersamanya.
Dalam keadaan seperti ini, Bayan Ali hanya berharap agar keluarganya ada dalam lindungan Allah.
"Semoga mereka selamat, insya Allah," tandasnya.
Sebelumnya, dalam sela upacara penyambutan mahasiswa baru di UIII Abu Ali menyampaikan bahwa pendidikan bukan sekadar cita-cita pribadi, melainkan juga tali harapan. Datang dari Gaza, Palestina, sebuah tempat di mana kehidupan sehari-hari terinspirasi dengan perjuangan dan inspirasi, ia memilih untuk menempuh mimpinya di UIII.
Saat ini, dia resmi terdaftar di Fakultas Studi Islam, Program Magister Takhassus Turath (Kajian Islam Klasik).
“Saya memilih program ini karena melanjutkan jalur akademik yang saya mulai di Universitas Al-Azhar Gaza, tempat saya lulus dari Fakultas Pendidikan dengan fokus pada Studi Islam,” ungkap Bayan.
Ia menceritakan setelah melakukan penelitian, menemukan informasi bahwa UIII menyediakan lingkungan akademik yang mendukung. Kemudian didukung dengan dosen-dosen yang berkompeten serta kurikulum yang komprehensif
Bagi Abu Ali, kampus UIII bukan sekadar institusi akademik. Lebih dari itu, UIII adalah ruang harapan, tempat ia ingin memperkuat keterampilan akademik dan kemampuan berpikir kritis. Di kampus UIII Bayan juga ingin menumbuhkan suaranya sebagai seorang cendekiawan meski berasal dari tanah air yang penuh kesulitan.
“Saya yakin belajar di UIII akan membuat saya lebih produktif dalam menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah,” katanya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
