
Perdana Menteri Prancis François Bayrou saat berbicara di Majelis Nasional mengenai wacana pajak superkaya (Dok. Bloomberg)
JawaPos.com - Perdana Menteri Prancis François Bayrou memperingatkan bahwa kebijakan pajak berlebihan terhadap kalangan superkaya tidak akan menyelesaikan masalah defisit anggaran negara. Sebaliknya, langkah tersebut justru dapat mendorong mereka untuk hengkang ke negara lain.
Bayrou menyampaikan pandangan ini di Majelis Nasional menjelang pemungutan suara mosi percaya yang krusial bagi kelanjutan pemerintahannya. Dia menegaskan, menaikkan pajak bagi tokoh superkaya seperti Bernard Arnault, Ketua dan CEO LVMH sekaligus orang terkaya Eropa, bukanlah solusi jangka panjang untuk menutup defisit.
Dilansir dari Bloomberg, Selasa (9/9/2025), Bayrou menanggapi dorongan partai-partai berhaluan kiri yang ingin menaikkan pajak bagi individu dengan kekayaan luar biasa besar. Dia menilai, wacana tersebut justru lebih bersifat simbolis ketimbang solutif.
"Bernard Arnault dan para miliarder lain telah dijadikan target simbolis dari semacam pemikiran magis. Mereka diperlakukan seperti boneka voodoo yang ditusuk jarum, seakan-akan dengan cara itu masalah anggaran bisa diselesaikan sekaligus menghantam kekayaan mereka," ujar Bayrou.
Namun, lanjutnya, kelompok superkaya tentu tidak akan tinggal diam. "Jawaban mereka sangat sederhana dan langsung: mereka akan pindah," kata Bayrou.
Dia mencontohkan, negara-negara tetangga seperti Luksemburg, Belgia, dan Belanda kerap menjadi tujuan potensial bagi miliarder atau perusahaan mereka. Bayrou juga menyinggung Italia, yang kini menarik perhatian sebagian orang kaya Inggris setelah adanya perubahan aturan pajak di negeri tersebut.
"Coba tanyakan pada tetangga kita di Inggris. Mereka memutuskan untuk mengenakan pajak pada warga asing yang sebelumnya dibebaskan dari kewajiban itu," ujar Bayrou. "Akibat langsungnya adalah melonjaknya harga properti di Milan."
Arnault sendiri tercatat berada di peringkat kedelapan Bloomberg Billionaires Index dengan kekayaan bersih mencapai 164 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.673 triliun (kurs Rp 16.300 per dolar AS). Posisi Arnault menjadikannya tokoh utama dalam perdebatan mengenai kontribusi kalangan superkaya terhadap keuangan negara.
Bayrou menekankan bahwa langkah menaikkan pajak ekstrem hanya akan mengurangi daya saing ekonomi Prancis. Sebaliknya, dia menegaskan pemerintahannya berfokus pada kombinasi pemotongan belanja dan penyesuaian pajak untuk menekan defisit. Proposal Bayrou mencakup pemangkasan anggaran sebesar 44 miliar euro atau sekitar Rp 844 triliun (kurs Rp 19.190 per euro). serta kenaikan pajak moderat.
Upaya itu ditujukan untuk memangkas defisit anggaran Prancis dari perkiraan 5,4 persen produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini menjadi 4,6 persen pada 2026. Namun, Bayrou menyadari langkah ini menghadapi tantangan politik serius. Pemungutan suara yang dijadwalkan malam ini diperkirakan berpotensi menjatuhkan pemerintahannya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
