Gedung Harvard Graduate School of Education di Cambridge, Massachusetts, lokasi penerbit Harvard Educational Review yang membatalkan edisi khusus Palestina. (Dok. thecrimson.com)
JawaPos.com - Lebih dari 120 akademisi bidang pendidikan mengecam keputusan penerbit Harvard University yang membatalkan seluruh edisi khusus Harvard Educational Review (HER) yang membahas Palestina. Dalam surat terbuka yang dirilis Kamis (14/8), para akademisi menyebut langkah itu sebagai bentuk "sensor" dan diskriminasi terhadap Palestina.
Dikutip dari The Guardian, edisi khusus itu sejatinya direncanakan enam bulan setelah pecahnya perang di Gaza. Isinya membahas pendidikan bagi warga Palestina, pengajaran tentang Palestina di sekolah dan universitas, serta dinamika wacana di dunia pendidikan Amerika Serikat.
Naskah-naskah sudah rampung diedit, kontrak dengan penulis hampir seluruhnya selesai, dan edisi ini bahkan telah dipromosikan di konferensi akademik. Namun, menjelang terbit, Harvard Education Publishing Group (HEPG), divisi dari Harvard Graduate School of Education, meminta seluruh artikel menjalani "penilaian risiko" oleh penasihat hukum universitas. Permintaan yang dinilai para editor sebagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Penolakan para penulis atas prosedur itu berujung pada pembatalan edisi secara mendadak. Dalam surel internal yang diperoleh The Guardian, Direktur Eksekutif HEPG Jessica Fiorillo menyebut pembatalan disebabkan proses peninjauan yang tidak memadai, kebutuhan penyuntingan lanjutan, serta "kurangnya keselarasan internal" terkait topik tersebut. Ia menegaskan keputusan itu bukan bentuk sensor atau pelanggaran kebebasan akademik.
Para penulis dan editor membantah keras. Mereka menilai keputusan tersebut justru menjadi preseden berbahaya dan contoh dari apa yang disebut "pengecualian Palestina" terhadap kebebasan akademik.
"Keputusan HEPG untuk meninggalkan misinya sendiri adalah bentuk scholasticide," tulis para akademisi, merujuk pada istilah yang digunakan ilmuwan Palestina untuk menggambarkan penghancuran sistem pendidikan secara sistematis.
Arathi Sriprakash, profesor sosiologi dan pendidikan di University of Oxford, mengatakan pembatalan ini memobilisasi banyak akademisi karena ancamannya terhadap integritas ilmu pengetahuan.
"Kekerasan genosida di Gaza telah menghancurkan seluruh sistem pendidikan tinggi di sana, dan kini di berbagai institusi pendidikan dunia ada upaya membungkam pembelajaran tentang apa yang terjadi," ujarnya.
Kasus ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap kampus-kampus di AS, termasuk dari pemerintahan Donald Trump yang menuduh adanya antisemitisme di universitas. Penerbit HER mengakui kekhawatiran bahwa edisi ini bisa memicu klaim antisemitisme.
Kecaman juga datang dari berbagai organisasi. Bulan lalu, kelompok kebebasan berekspresi PEN America menyebut pembatalan ini sebagai "serangan terang-terangan terhadap kebebasan akademik."
Asosiasi Studi Timur Tengah Amerika Utara (Mesa) bahkan menilai langkah Harvard sebagai "pelanggaran prinsip kebebasan akademik dan pengkhianatan terhadap integritas ilmiah."
Hingga berita ini diturunkan, juru bicara Harvard Graduate School of Education belum memberikan komentar terbaru.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
