Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Agustus 2025 | 19.57 WIB

120 Akademisi Dunia Kecam Harvard University Usai Batalkan Jurnal Edisi Khusus Palestina

Gedung Harvard Graduate School of Education di Cambridge, Massachusetts, lokasi penerbit Harvard Educational Review yang membatalkan edisi khusus Palestina. (Dok. thecrimson.com)

JawaPos.com - Lebih dari 120 akademisi bidang pendidikan mengecam keputusan penerbit Harvard University yang membatalkan seluruh edisi khusus Harvard Educational Review (HER) yang membahas Palestina. Dalam surat terbuka yang dirilis Kamis (14/8), para akademisi menyebut langkah itu sebagai bentuk "sensor" dan diskriminasi terhadap Palestina.

Dikutip dari The Guardian, edisi khusus itu sejatinya direncanakan enam bulan setelah pecahnya perang di Gaza. Isinya membahas pendidikan bagi warga Palestina, pengajaran tentang Palestina di sekolah dan universitas, serta dinamika wacana di dunia pendidikan Amerika Serikat.

Naskah-naskah sudah rampung diedit, kontrak dengan penulis hampir seluruhnya selesai, dan edisi ini bahkan telah dipromosikan di konferensi akademik. Namun, menjelang terbit, Harvard Education Publishing Group (HEPG), divisi dari Harvard Graduate School of Education, meminta seluruh artikel menjalani "penilaian risiko" oleh penasihat hukum universitas. Permintaan yang dinilai para editor sebagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Penolakan para penulis atas prosedur itu berujung pada pembatalan edisi secara mendadak. Dalam surel internal yang diperoleh The Guardian, Direktur Eksekutif HEPG Jessica Fiorillo menyebut pembatalan disebabkan proses peninjauan yang tidak memadai, kebutuhan penyuntingan lanjutan, serta "kurangnya keselarasan internal" terkait topik tersebut. Ia menegaskan keputusan itu bukan bentuk sensor atau pelanggaran kebebasan akademik.

Para penulis dan editor membantah keras. Mereka menilai keputusan tersebut justru menjadi preseden berbahaya dan contoh dari apa yang disebut "pengecualian Palestina" terhadap kebebasan akademik.

"Keputusan HEPG untuk meninggalkan misinya sendiri adalah bentuk scholasticide," tulis para akademisi, merujuk pada istilah yang digunakan ilmuwan Palestina untuk menggambarkan penghancuran sistem pendidikan secara sistematis.

Arathi Sriprakash, profesor sosiologi dan pendidikan di University of Oxford, mengatakan pembatalan ini memobilisasi banyak akademisi karena ancamannya terhadap integritas ilmu pengetahuan.

"Kekerasan genosida di Gaza telah menghancurkan seluruh sistem pendidikan tinggi di sana, dan kini di berbagai institusi pendidikan dunia ada upaya membungkam pembelajaran tentang apa yang terjadi," ujarnya.

Kasus ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap kampus-kampus di AS, termasuk dari pemerintahan Donald Trump yang menuduh adanya antisemitisme di universitas. Penerbit HER mengakui kekhawatiran bahwa edisi ini bisa memicu klaim antisemitisme.

Kecaman juga datang dari berbagai organisasi. Bulan lalu, kelompok kebebasan berekspresi PEN America menyebut pembatalan ini sebagai "serangan terang-terangan terhadap kebebasan akademik."

Asosiasi Studi Timur Tengah Amerika Utara (Mesa) bahkan menilai langkah Harvard sebagai "pelanggaran prinsip kebebasan akademik dan pengkhianatan terhadap integritas ilmiah."

Hingga berita ini diturunkan, juru bicara Harvard Graduate School of Education belum memberikan komentar terbaru.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore