Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Agustus 2025 | 17.07 WIB

Generasi Z Dianggap Paling Beruntung Hadapi Revolusi AI, Ini Alasannya

CEO OpenAI Sam Altman saat berbicara di sebuah konferensi teknologi, menggambarkan optimisme terhadap peluang Generasi Z di era AI. (Bitcoin.com) - Image

CEO OpenAI Sam Altman saat berbicara di sebuah konferensi teknologi, menggambarkan optimisme terhadap peluang Generasi Z di era AI. (Bitcoin.com)

JawaPos.com – CEO OpenAI Sam Altman menyebut Generasi Z atau Gen Z sebagai "anak-anak paling beruntung dalam sejarah" karena hidup di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari fortune.com, pandangan optimistis ini, Altman sampaikan dalam podcast "Huge If True" bersama Cleo Abram.

Altman mengakui, perkembangan AI akan mengubah peta dunia kerja. Ia bahkan menyebut ada “kelas-kelas pekerjaan yang akan hilang sepenuhnya".

Namun, menurutnya, anak muda memiliki kemampuan adaptasi paling tinggi terhadap perubahan ini.

"Saya lebih khawatir pada pekerja berusia 62 tahun yang enggan belajar ulang, daripada anak berusia 22 tahun yang baru lulus," ujarnya.

AI Buka Peluang Besar Wirausaha

Optimisme Altman berangkat dari hadirnya teknologi baru seperti GPT-5 yang dapat membantu seseorang menciptakan produk atau layanan secara cepat, bahkan membangun perusahaan bernilai miliaran dolar tanpa tim besar.

“Dulu, butuh ratusan orang untuk membuat produk kelas dunia. Sekarang, satu orang saja bisa melakukannya,” kata Altman.

Ia memprediksi akan muncul jenis pekerjaan baru yang lebih menarik dan bergaji tinggi, seiring hilangnya sebagian pekerjaan lama.

Bahkan, ia membayangkan mahasiswa di masa depan bisa terlibat langsung dalam misi menjelajah tata surya.

Tantangan Pasar Kerja

Meski peluang terbuka lebar, data menunjukkan kondisi pasar kerja saat ini tidak sepenuhnya cerah.

Menurut Fortune Intelligence, analisis Goldman Sachs menemukan bahwa “jaminan keamanan” gelar sarjana kini memudar. Tingkat partisipasi kerja anak muda tanpa gelar turun tujuh poin persentase sejak 1997.

Selain itu, laporan dari Challenger, Gray & Christmas mencatat lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Juli 2025, hampir separuh di antaranya disebabkan oleh pembaruan teknologi dan adopsi AI.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore