
Seorang guru perempuan duduk di meja kelas dengan kedua tangan menutupi wajah, menggambarkan tekanan dan kecemasan yang dihadapi tenaga pendidik di tengah krisis pendidikan. (Dok. Canva)
JawaPos.com – Memulai pekerjaan baru selalu menegangkan, apalagi bagi seorang guru yang akan menghadapi kelas dan murid untuk pertama kalinya.
Namun, bagaimana jika sehari sebelum hari pertama, Anda menerima email misterius dari orang yang pernah memegang posisi itu, berisi peringatan keras soal kondisi sekolah?
Itulah yang dialami seorang guru baru di Amerika Serikat. Dikutip dari YourTango, seorang warganet membagikan kisah temannya yang menerima email anonim dari pendahulu di sekolah tersebut. Email itu dikirim melalui alamat acak, dimulai dengan kalimat, “Jika kamu membaca ini, kemungkinan besar kamu telah menerima posisi yang dulu pernah saya pegang”.
Dalam isi pesannya, sang mantan guru menggambarkan pengalamannya penuh dengan minimnya dukungan, kepemimpinan yang buruk, dan ekspektasi yang tak realistis.
“Berbicara untuk menyampaikan keluhan sering kali hanya dibalas dengan diam atau penolakan,” tulisnya.
Ia juga memperingatkan bahwa batasan kerja tidak dihargai, dan guru dituntut bekerja melampaui kapasitas demi memenuhi tuntutan yang berlebihan.
“Jika mulai terasa ada yang janggal, percayai nalurimu,” lanjutnya.
Ia menyarankan guru baru itu untuk mendokumentasikan setiap kejadian penting, melindungi waktu, ketenangan, dan profesionalismenya.
Pesan itu bahkan ditutup dengan catatan tambahan, yakni merekam setiap percakapan pribadi dengan pihak manajemen, tentu saja dengan catatan bahwa hal ini perlu disesuaikan dengan hukum setempat.
Krisis Guru yang Semakin Nyata
Fenomena ini tidak datang tanpa alasan. Menurut laporan Universitas Missouri pada 2025, sebanyak 78 persen guru pernah mempertimbangkan untuk berhenti mengajar, terutama mereka yang sudah berpengalaman.
Penulis studi bahkan menyebut kelelahan guru sebagai “tantangan kesehatan publik besar” yang mengancam sistem pendidikan.
Hal serupa juga tergambar dalam laporan terbaru California Teachers' Association. Empat dari sepuluh guru di negara bagian itu mempertimbangkan hengkang dalam beberapa tahun ke depan, sebagian besar karena alasan finansial.
Sebanyak 84 persen mengaku tidak mampu tinggal di dekat sekolah tempat mereka bekerja, dan 81 persen mengatakan gaji mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti belanja harian dan biaya penitipan anak.
Seorang guru bahasa, Elsa Batista, pernah menegaskan dalam konferensi pers 2024, “Mengajar kini menjadi pekerjaan yang melelahkan secara mental, emosional, dan fisik. Kami kuat dan kreatif, tetapi kami butuh dukungan. Saat ini, itu belum terjadi.”

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
