Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Agustus 2025 | 22.19 WIB

Ohio Siap Izinkan Siswa Ambil 3 Hari Libur Demi Menjaga Kesehatan Mental

Seorang siswa tampak lesu saat menulis di buku catatan di kelas, mencerminkan pentingnya perhatian pada kesehatan mental anak. (Dok. canva.com) - Image

Seorang siswa tampak lesu saat menulis di buku catatan di kelas, mencerminkan pentingnya perhatian pada kesehatan mental anak. (Dok. canva.com)

JawaPos.com – Kesehatan mental kini mulai mendapat perhatian lebih di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Di negara bagian Ohio, Amerika Serikat, para siswa mungkin akan segera memiliki hak untuk mengambil hingga tiga hari izin khusus setiap tahun demi menjaga kesehatan mental mereka.

Dikutip dari laporan YourTango, usulan ini datang dari Senator Negara Bagian Ohio, Willis Blackshear, yang mengajukan rancangan undang-undang untuk memberikan “napas lega” bagi para pelajar. Ia menilai, langkah ini bisa menjadi salah satu cara untuk menantang stigma seputar kesehatan mental sejak dini.

“Selain bersikap reaktif, kita juga harus proaktif menangani ini. Jangan sampai anak-anak terus mengalami kesulitan yang tidak ditangani, lalu kita baru melihat dampaknya pada nilai ujian, sikap, dan perilaku mereka,” ujar Blackshear, dikutip dari WBNS.

Dalam rancangan tersebut, “hari kesehatan mental” didefinisikan sebagai hari sekolah di mana siswa memilih untuk fokus pada kesejahteraan emosional dan psikologisnya alih-alih hadir di kelas. Menariknya, izin ini tidak memerlukan surat keterangan medis, berbeda dengan izin sakit fisik pada umumnya.

Meski begitu, kebijakan ini tidak mengharuskan sekolah menyediakan layanan kesehatan mental secara langsung bagi siswa yang mengambil hari izin tersebut. Keputusan untuk mencari bantuan profesional tetap berada di tangan orang tua.

Menurut laporan WBNS, satu dari tiga siswa di Ohio dilaporkan mengalami kecemasan. Data dari U.S. Surgeon General pada 2021 bahkan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu 2009–2019, terjadi peningkatan 40% siswa SMA yang mengaku merasa sedih atau putus asa.

Selain itu, kunjungan ke instalasi gawat darurat untuk kasus depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya pada anak meningkat 28% antara 2011–2015.

Gagasan ini memang masih terbilang baru di dunia pendidikan, namun banyak pihak menilai kebijakan semacam ini bisa membantu menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa stigma terhadap kesehatan mental masih muncul di berbagai aspek, mulai dari proses diagnosis hingga kebijakan hukum. Stigma tersebut kerap terbentuk sejak usia muda, ketika anak meniru sikap orang dewasa di sekitarnya terhadap isu ini.

Dengan memberi kesempatan pada siswa untuk mengambil hari khusus saat kesehatan mental mereka membutuhkan perhatian, Ohio berpotensi mengambil langkah penting menuju generasi yang lebih sadar, terbuka, dan sehat secara emosional. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore