Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Agustus 2025 | 00.43 WIB

Dikaitkan Perdagangan Narkoba, AS Buru Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Presiden Venezuela Nicolas Maduro.  (Bloomberg) - Image

Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Bloomberg)

JawaPos.com-Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela sedang panas. Kali ini pemicunya kebijakan AS yang melakukan perburuan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kebijakan itu semakin heboh karena diiming-imingi imbalan Rp 815 miliar bagi siapapun yang bisa menangkap Nicolas Maduro. 

Pihak Venezuela langsung merespon keras keputusan AS tersebut. Mereka menilai sikap AS tersebut sebagai langkah yang konyol dan menggelikan. AS sebelumnya tidak mengakui Maduro dalam dua kali kemenangannya di Pilpres. Washington juga menuding Maduro sebagai otak dari geng peredaran kokain.

"Hari ini, Departemen Kehakiman dan Departemen Luar Negeri mengumumkan hadiah bersejarah sebesar USD 50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Nicolas Maduro," kata Jaksa Agung Pam Bondi dalam sebuah video di media sosial seperti dikutip AFP (8/8). 

Bondi menyebut Maduro adalah salah satu pengedar narkoba terbesar di dunia. Selain itu juga menjadi ancaman bagi keamanan nasional mereka. Dia menjelaskan hadiah yang ditawarkan sebelumnya ditetapkan pada Januari lalu sebesar USD 25 juta.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil menyebut hadiah dari Bondi sebagai kebijakan yang konyol. Serta menjadi tabir asap paling menggelikan yang pernah mereka lihat. "Martabat tanah air kami tidak dijual. Kami menolak operasi propaganda politik kasar ini," kata Gil di Telegram.

Untuk diketahui pada 2020, tepatnya saat periode pertama Presiden Donald Trump, Maduro dan pejabat tinggi Venezuela lainnya didakwa di pengadilan federal di New York atas beberapa tuduhan. Diantaranya terlibat dalam konspirasi "narko-terorisme".

Geger soal imbalan penangkapan Maduro diawali oleh Departemen Kehakiman menuduh Maduro memimpin geng perdagangan kokain bernama The Cartel of The Suns. Kartel ini ditengarai mengirim ratusan ton narkotika ke AS selama dua dekade terakhir. Perdagangan ilegal ini menghasilkan ratusan juta dolar. 

Penyidik federal AS mengatakan kartel ini bekerja sama dengan Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Kelompok ini oleh AS dicap sebagai organisasi teroris. Lebih lanjut Bondi mengatakan Maduro juga bekerja dengan geng Venezuela Tren de Aragua dan kartel Sinaloa Meksiko.

Badan Narkoba AS (DEA) juga telah menyita 30 ton kokain yang terkait dengan Maduro dan rekan-rekannya. Dari barang bukti itu, hampir tujuh ton diantaranya terkait langsung dengan Maduro sendiri. Selain itu Pemerintah AS juga telah menyita lebih dari USD 700 juta aset terkait Maduro, termasuk dua pesawat pemerintah Venezuela.

"Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Maduro tidak akan lolos dari keadilan," katanya. Maduro juga akan bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatannya yang tercela. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore