
Ilustrasi Jepang di Persimpangan Jalan, Kampanye Pemilu Diwarnai Sentimen Anti-Imigran. (Freepik).
JawaPos.com - Menjelang pemilihan anggota Majelis Tinggi pada 20 Juli 2025, isu kebijakan terhadap warga asing menjadi sorotan utama.
Sejumlah partai politik di Jepang mulai mengusung janji kampanye yang lebih ketat terhadap imigran, seiring meningkatnya sentimen xenophobia (perasaan takut, benci, atau tidak suka terhadap orang asing) di kalangan sebagian pemilih.
Dilansir dari The Asahi Shimbun pada Rabu (16/7), partai-partai seperti Sanseito yang dikenal dengan slogan ‘Utamakan Jepang’, mendapat lonjakan dukungan karena sikap keras mereka terhadap imigrasi.
Hal ini mendorong partai lain ikut mengadopsi narasi serupa demi meraih simpati publik.
Langkah tersebut dipicu oleh keresahan warga Jepang, terutama dari kelas pekerja menengah ke bawah, yang merasa tertekan secara ekonomi.
Beberapa dari mereka percaya bahwa kehadiran orang asing, terutama yang kaya, menyebabkan harga properti naik dan persaingan dalam dunia kerja semakin ketat.
Salah satu warga di Osaka bahkan menyalahkan stres akibat kekhawatiran ekonomi pada keguguran yang dialaminya awal tahun ini.
Selain faktor ekonomi, kekhawatiran akan keamanan publik juga muncul, meskipun data Badan Kepolisian Nasional menunjukkan bahwa angka kejahatan oleh warga asing terus menurun sejak pertengahan 2000-an dan cenderung stabil dalam satu dekade terakhir.
Namun, sentimen negatif ini berbanding terbalik dengan hasil survei yang dilakukan Profesor Shunsuke Tanabe dari Universitas Waseda.
Dalam survei nasional tahun 2021, 46 persen responden percaya bahwa peningkatan jumlah warga asing justru mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, warga asing di Jepang mulai merasa cemas.
Seorang mahasiswa berdarah Bangladesh dan pekerja asal Indonesia mengaku bingung mengapa mereka menjadi sasaran kampanye politik, padahal telah mematuhi hukum dan berkontribusi terhadap masyarakat.
“Saya mengikuti aturan dan hidup dengan baik. Saya tidak bisa menerima jika orang melihat saya sebagai musuh hanya karena saya orang asing,” ujar seorang WNI berusia 30 tahun yang bekerja di panti jompo
Organisasi seperti Amnesty International Jepang serta Solidaritas Migran Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama, menolak kampanye politik yang menyebarkan kebencian terhadap warga asing.
Menurut Profesor Ken Endo dari Universitas Tokyo, fenomena populisme ini serupa dengan yang terjadi di Eropa, di mana partai-partai moderat terseret ke kanan karena tekanan dari kelompok ekstrem.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
