Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 Juli 2025 | 03.59 WIB

Jepang di Persimpangan Jalan, Kampanye Pemilu Majelis Tinggi Diwarnai Sentimen Anti-Imigran

Ilustrasi Jepang di Persimpangan Jalan, Kampanye Pemilu Diwarnai Sentimen Anti-Imigran. (Freepik). - Image

Ilustrasi Jepang di Persimpangan Jalan, Kampanye Pemilu Diwarnai Sentimen Anti-Imigran. (Freepik).

JawaPos.com - Menjelang pemilihan anggota Majelis Tinggi pada 20 Juli 2025, isu kebijakan terhadap warga asing menjadi sorotan utama.

Sejumlah partai politik di Jepang mulai mengusung janji kampanye yang lebih ketat terhadap imigran, seiring meningkatnya sentimen xenophobia (perasaan takut, benci, atau tidak suka terhadap orang asing) di kalangan sebagian pemilih.

Dilansir dari The Asahi Shimbun pada Rabu (16/7), partai-partai seperti Sanseito yang dikenal dengan slogan ‘Utamakan Jepang’, mendapat lonjakan dukungan karena sikap keras mereka terhadap imigrasi.

Hal ini mendorong partai lain ikut mengadopsi narasi serupa demi meraih simpati publik.

Langkah tersebut dipicu oleh keresahan warga Jepang, terutama dari kelas pekerja menengah ke bawah, yang merasa tertekan secara ekonomi.

Beberapa dari mereka percaya bahwa kehadiran orang asing, terutama yang kaya, menyebabkan harga properti naik dan persaingan dalam dunia kerja semakin ketat.

Salah satu warga di Osaka bahkan menyalahkan stres akibat kekhawatiran ekonomi pada keguguran yang dialaminya awal tahun ini.

Selain faktor ekonomi, kekhawatiran akan keamanan publik juga muncul, meskipun data Badan Kepolisian Nasional menunjukkan bahwa angka kejahatan oleh warga asing terus menurun sejak pertengahan 2000-an dan cenderung stabil dalam satu dekade terakhir.

Namun, sentimen negatif ini berbanding terbalik dengan hasil survei yang dilakukan Profesor Shunsuke Tanabe dari Universitas Waseda.

Dalam survei nasional tahun 2021, 46 persen responden percaya bahwa peningkatan jumlah warga asing justru mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, warga asing di Jepang mulai merasa cemas.

Seorang mahasiswa berdarah Bangladesh dan pekerja asal Indonesia mengaku bingung mengapa mereka menjadi sasaran kampanye politik, padahal telah mematuhi hukum dan berkontribusi terhadap masyarakat.

“Saya mengikuti aturan dan hidup dengan baik. Saya tidak bisa menerima jika orang melihat saya sebagai musuh hanya karena saya orang asing,” ujar seorang WNI berusia 30 tahun yang bekerja di panti jompo

Organisasi seperti Amnesty International Jepang serta Solidaritas Migran Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama, menolak kampanye politik yang menyebarkan kebencian terhadap warga asing.

Menurut Profesor Ken Endo dari Universitas Tokyo, fenomena populisme ini serupa dengan yang terjadi di Eropa, di mana partai-partai moderat terseret ke kanan karena tekanan dari kelompok ekstrem.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore