
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dengan latar bendera Israel dan Iran menggambarkan ketegangan geopolitik terbaru terkait serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. (Reuters)
JawaPos.com - Di tengah ancaman krisis energi global akibat konflik yang memanas antara Iran dan Israel, Turki mulai bersiap menghadapi skenario terburuk: penutupan Selat Hormuz.
Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki, Abdulkadir Uraloğlu, menegaskan bahwa negaranya kini mempercepat pengembangan jalur alternatif untuk menjaga kelancaran arus perdagangan dan energi.
Ketegangan di kawasan meningkat tajam setelah Iran meluncurkan serangan rudal sebagai balasan atas serangan udara Israel pada 13 Juni yang menyasar fasilitas nuklir Iran.
Salah satu langkah balasan yang kini paling dikhawatirkan dunia adalah kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz, jalur laut sempit yang sangat strategis dan menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.
Sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia, setara 18 juta barel per hari, melewati selat ini. Jika jalur tersebut ditutup, dampaknya bisa langsung terasa pada harga energi global dan stabilitas geopolitik kawasan.
“Kami harus siap dengan jalur darat dan laut jika Selat Hormuz benar-benar ditutup,” ujar Uraloğlu kepada jurnalis akhir pekan lalu, dikutip via Hurriyet Daily News.
Sebagai langkah antisipasi, Turki mempercepat pengembangan dua koridor utama yakni Middle Corridor dan Development Road Corridor.
Middle Corridor adalah jalur transportasi yang menghubungkan Tiongkok ke Eropa melalui Asia Tengah, Laut Kaspia, Kaukasus, dan Turki. Jalur ini dianggap sebagai alternatif penting terhadap rute tradisional seperti Rusia dan Terusan Suez.
Sementara itu, Development Road adalah proyek ambisius yang bertujuan menghubungkan Pelabuhan Al-Faw di Irak bagian selatan ke Turki melalui jalur darat dan rel, lalu diteruskan ke Eropa. Koridor ini akan menciptakan jalur perdagangan baru dari Teluk ke pasar Barat.
“Kami adalah satu-satunya negara anggota NATO yang dilintasi jalur kereta api dari 21 negara hingga ke Eropa. Karena itu, kami harus mempercepat diversifikasi jalur seperti Middle Corridor dan Development Road,” jelas dia.
Sepanjang 2.100 kilometer dari jalur Development Road akan membentang di wilayah Turki, dengan total investasi yang diperkirakan mencapai 24 miliar dolar AS.
Konflik Iran-Israel juga berdampak langsung pada operasional transportasi udara. Uraloğlu mengungkapkan, saat ini terdapat 11 pesawat Turki yang terjebak di wilayah konflik, tujuh di Iran dan empat di Irak.
Pesawat-pesawat tersebut dioperasikan oleh Pegasus Airlines, Turkish Airlines, AJet, dan Tailwind. “Kami terus memantau situasi dengan ketat melalui Kementerian Luar Negeri dan Badan Intelijen Nasional,” tambahnya.
Langkah cepat Turki ini menunjukkan bahwa negara tersebut tidak hanya berperan sebagai penghubung antara Timur dan Barat secara geografis, tetapi juga tengah memosisikan diri sebagai pemain kunci dalam menghadapi dinamika geopolitik dan energi global yang kian tidak menentu.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
