Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Desember 2024 | 12.53 WIB

Suriah Has Fallen, Pemberontak Gulingkan Rezim Bashar al-Assad, Sang Presiden Kabur dari Damaskus, Simak Kronologi hingga Reaksi Global

Komunitas warga Suriah yang merayakan kemenangan setelah oposisi mengumumkan kejatuhan Presiden Bashar al-Assad, Minggu (8/12/2024). (Reuters) - Image

Komunitas warga Suriah yang merayakan kemenangan setelah oposisi mengumumkan kejatuhan Presiden Bashar al-Assad, Minggu (8/12/2024). (Reuters)

JawaPos.com – Pemberontak Suriah berhasil menggulingkan Presiden Bashar al-Assad setelah menguasai ibu kota Damaskus pada Minggu (8/12/2024) pagi. Keberhasilan ini mengakhiri lebih dari lima dekade kekuasaan keluarga Assad dan menjadi momen bersejarah bagi kawasan Timur Tengah. Assad dilaporkan melarikan diri dari Suriah, namun keberadaan pastinya masih belum diketahui.

Melansir Reuters, Minggu (8/12/2024), para pemberontak, yang dipimpin oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), menyebut penguasaan Damaskus sebagai “akhir era kegelapan.” Dalam pernyataan resmi, mereka mengumumkan, “Kami memulai era baru di Suriah, di mana keadilan ditegakkan dan kebenaran dihormati.”

Kronologi Jatuhnya Pemerintahan Assad

Serangan mendadak pemberontak dimulai pada akhir November 2024 dengan merebut Aleppo, diikuti dengan penguasaan Hama pada Kamis (5/12/2024), dan akhirnya Homs pada Sabtu (7/12/2024). Saat pemberontak mendekati Damaskus, pasukan loyalis Assad dan milisi pro-Iran dilaporkan mundur secara signifikan.

Ketika Damaskus jatuh pada Minggu (8/12/2024), Assad meninggalkan Suriah dengan pesawat dari Bandara Damaskus. Menurut sumber keamanan Suriah yang dikutip oleh Reuters, pesawat itu sempat terbang ke wilayah pesisir Suriah sebelum menghilang dari radar. Keberadaan Assad, istrinya Asma, dan kedua anak mereka hingga kini masih misterius.

“Pesawatnya mungkin ditembak jatuh, namun belum ada konfirmasi pasti,” ujar seorang sumber militer Suriah kepada Reuters.

Euforia di Damaskus

Setelah pemberontak masuk Damaskus tanpa perlawanan berarti, ribuan warga turun ke jalan untuk merayakan kebebasan dari rezim Assad. Di Alun-Alun Umum, warga meneriakkan “Kebebasan!” dan melambaikan bendera oposisi.

Beberapa warga dilaporkan masuk ke Istana Presiden Al-Rawda. “Orang-orang terlihat membawa furnitur keluar dari dalam istana,” kata seorang saksi mata. Penjara besar di pinggiran Damaskus yang menampung ribuan tahanan politik juga berhasil dibebaskan.

Pemimpin HTS, Abu Mohammed al-Golani, menyatakan bahwa ini adalah awal baru bagi Suriah. “Tidak ada ruang untuk mundur. Masa depan ada di tangan kami,” ujar Golani dalam pidato yang disiarkan melalui televisi negara yang telah dikuasai pemberontak.

Tantangan Berat di Depan Mata

Meski euforia meluas, tantangan besar menanti pemerintahan transisi Suriah. Negara yang terpecah akibat konflik sektarian dan perang sipil selama 13 tahun memerlukan stabilitas politik dan bantuan internasional. Golani menegaskan, “Perjuangan kita kini adalah membangun Suriah yang layak bagi pengorbanan rakyatnya.”

Melansir Reuters, Minggu (8/12/2024), potensi ancaman kebangkitan kelompok teroris seperti ISIS menjadi perhatian serius. Amerika Serikat telah menegaskan akan mempertahankan kehadirannya di Suriah Timur untuk mencegah kebangkitan militan dan terorisme.

Analis politik Joshua Landis menyebut transisi pemerintahan ini harus berlangsung teratur. “Mereka harus membangun kembali negara yang hancur. Dunia, termasuk AS dan Eropa, perlu mencabut sanksi agar Suriah bisa bangkit,” ujarnya.

Reaksi Internasional

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore