Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Juni 2024 | 20.13 WIB

Kesenjangan Gender Demografis dalam Populasi yang Belum Menikah di Korea Selatan Bertambah Besar

Angka kelahiran terus menurun. (Getty) - Image

Angka kelahiran terus menurun. (Getty)

JawaPos.com - Ketidakseimbangan gender di Korea Selatan, di antara populasi yang belum menikah telah melebar secara signifikan. 

Dimana pria yang belum menikah, melebihi jumlah perempuan yang belum menikah hampir 20 persen. 

Ketidakseimbangan ini disebabkan oleh preferensi orang tua tradisional, yang lebih memilih anak laki-laki daripada anak perempuan, serta praktik aborsi berdasarkan jenis kelamin beberapa dekade yang lalu.

Menurut sebuah laporan yang dirilis hari Senin (17/6), oleh Institut Kesehatan dan Urusan Sosial Korea (KIHASA) populasi pria yang belum menikah di Korea Selatan 19,6 persen, lebih besar daripada populasi perempuan pada tahun 2021.

Hampir setengah dari pria Korea yang lahir pada tahun 1985, dan tujuh dari sepuluh pria Korea yang lahir pada tahun 1990 belum menikah.

Sebaliknya, hanya 29,1 persen wanita Korea yang lahir pada tahun 1985, dan 61,3 persen yang lahir pada tahun 1990 yang masih belum menikah.

Ketidakseimbangan demografis sangat parah, di daerah pedesaan dibandingkan dengan Seoul dan daerah metropolitan.

Khususnya, proporsi pria yang belum menikah di Seoul adalah 2,5 persen dan di Busan 16,2 persen, sedangkan angkanya jauh lebih tinggi di daerah pedesaan bagian selatan. 

34,9 persen di provinsi Gyeongsang Utara, 33,2 persen di provinsi Gyeongsang Selatan, dan 31,7 persen di provinsi Chungcheong Utara.

Ketidakseimbangan tersebut diakibatkan oleh perbedaan, selama beberapa dekade antara jumlah kelahiran anak laki-laki dan perempuan.

Rasio jenis kelamin kelahiran baru mulai melebihi rasio jenis kelamin alami pada tahun 1970-an, dan tetap tinggi secara tidak wajar hingga akhir 1980-an dan pertengahan 1990-an.

Rasio jenis kelamin kelahiran, mengacu pada jumlah anak laki-laki yang lahir untuk setiap 100 anak perempuan. 

Pada tahun 1970, angkanya mencapai 229,8 dan pada tahun 1975 mencapai 207,2, sebelum turun menjadi 144,6 pada tahun 1990 dan 107,5 pada tahun 2000.

Akibatnya, ketidakseimbangan gender muncul di masyarakat pada awal tahun 1990-an, dan memburuk setelah pertengahan tahun 2000-an.

Perbedaan rasio kelahiran ini berakar pada preferensi tradisional untuk anak laki-laki daripada anak perempuan di masa lalu, meningkatnya keinginan untuk memilih jenis kelamin anak dalam keluarga berencana. 

Editor: Nicolaus Ade
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore