
Inflasi yang sangat tinggi membuat anak muda lebih mengencangkan dompet./Instagram Kim Ji Hye
JawaPos.com - Terlepas dari kemajuan digital dan lonjakan transaksi online, tren menggunakan uang tunai paling menonjol muncul di kalangan warga Korea Selatan yang berusia 20 hingga usia 30.
Karena semakin banyak dari kaum milenial dan Gen Z, yang memilih untuk menggunakan uang tunai dalam bentuk fisik, dibandingkan dengan kartu kredit dalam kehidupan sehari-hari.
Metode "cash stuffing" disebut sebagai penganggaran yang melibatkan penarikan uang tunai dari rekening bank.
Uang tunai tersebut akan kembali dipisahkan ke dalam amplop khusus untuk kategori yang berbeda, seperti bahan makanan, belanja, makan di luar, dan lainnya.
Tren ini semakin populer di kalangan anak muda, yang ingin menekan pengeluaran mereka yang berlebihan dan melawan efek nontunai (kecenderungan untuk melakukan lebih banyak pembelian saat pembayaran dirasa tidak terlalu nyata).
Metode ini membatasi pengeluaran, sesuai dengan jumlah yang dialokasikan dengan cara yang nyata secara fisik
"Saya menghabiskan sekitar 1 juta won atau sekitar Rp 11 juta, hanya untuk biaya pengantaran makanan."
"Tetapi setelah beralih ke pembayaran tunai, pengeluaran saya turun hampir 70 persen," ungkap Kim Ji Hye, 32 tahun, kepada The Korea Herald.
"Sebelumnya, sebagian besar penghasilan saya digunakan untuk membayar tagihan kartu kredit."
"Tetapi sejak mulai menabung, tabungan saya meningkat dari nol menjadi 1,2 juta won atau sekitar Rp 14 juta setiap bulannya," ujar Yang Eun Bi, seorang perancang web profesional yang berusia 33 tahun.
Sementara itu, beberapa orang seperti Kang yang berusia 24 tahun, bahkan sampai memotong kartu kredit mereka menjadi dua sebagai simbol komitmen.
Menurut Choi Su Ji, seorang YouTuber yang secara teratur mempublikasikan video tentang upaya penganggarannya, mengungkapkan justru ketidaknyamananlah yang membantu mengatasi pengeluaran yang tidak perlu.
"Anda harus menelepon setiap kali perlu memesan makanan di restoran. Karena ketidaknyamanan ini, saya secara bertahap beralih memasak di rumah."
Dia menambahkan bahwa, sebelumnya sebagian besar pengeluarannya berasal dari aplikasi pengantaran makanan.
"Namun, dengan uang tunai, sulit untuk mengandalkan staf pengantaran untuk memiliki uang kembalian yang tepat."

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
