
Ilustrasi Covid-19 subvarian Omicron Arcturus (XBB 1.16).
JawaPos.com - Kasus Covid-19 yang tengah melonjak lagi di ASEAN, khususnya Indonesia menjadi alarm bahwa meski status pandemi sudah dicabut oleh WHO, penyakit ini tetap tidak bisa dipandang sebelah mata.
Untuk diketahui, Kementerian Kesehatan mencatat kasus harian Covid-19 di Indonesia bertambah 35-40 kasus per 6 Desember 2023, dengan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit sebanyak 60-131 orang.
Hal ini membuat tingkat keterisian rumah sakit sebesar 0,06 peren dan angka kematian per hari berada di angka 0-3 kasus. Kemenkes mencatat,kenaikan tersebut didominasi oleh subvarian Omicron XBB 1.5 yang juga menjadi penyebab gelombang infeksi Covid-19 di Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, juga dideteksi subvarian EG2 dan EG5.
Meski angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan saat pandemi yang mencapai 50.000-400.000 kasus per minggu, nyawa manusia tetaplah bukan sesuatu yang layak dipertaruhkan.
Selama 2,5 tahun dibekap pandemi, publik dan pemerintah rasanya sudah harus cukup pintar untuk membaca situasi yang bisa ditimbulkan akibat Covid-19. Beragam keputusan dan tindakan blunder yang tidak perlu sudah semestinya bisa dicegah.
Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang cukup keteteran dalam menghadapi pandemi Covid-19. Terlepas dari kekagetan seluruh pihak akan virus yang tiba-tiba menyerbu dunia ini, beragam keputusan untuk memutus rantai penularan Covid-19 kala itu betul-betul menggelikan.
Dilansir dari The Bulwark, Gubernur Georgia Brian Kemp adalah salah satu sosok yang disorot di Negeri Paman Sam. Pasalnya, Kemp baru mengeluarkan perintah pembatasan sosial pada 1 April 2020. Padahal, peringatan soal virus ini sudah gencar sejak Januari 2020.
Beberapa ahli kesehatan sudah mengingatkan tentang potensi penyebaran virus ini, bahkan penularan tanpa gejala sejak awal 2020. Tak cuma itu, para pejabat kesehatan masyarakat di seluruh dunia juga telah menyerukan peringatan serupa berulang kali.
Pada 16 Maret 2020, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), yang terletak hanya 20 menit dari kantor Kemp, sudah menyampaikan bahwa virus ini dapat menyebar sebelum orang menunjukkan gejala. Toh, Kemp tetap santai. Tak ayal, Kemp pun banjir kritikan dan dicap sebagai gubernur bodoh.
Berkaca dari kasus Kemp, dalam periode di mana kasus Covid-19 tengah meningkat lagi, penting bagi pemimpin untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada informasi yang tersedia dan dipercayai oleh para ahli. Tindakan yang diambil oleh pemimpin di masa krisis dapat memiliki dampak besar pada masyarakatnya.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
