Korban dalam serangan udara yang dilakukan Israel.
JawaPos.com - Israel kembali menyerang Palestina lewat serangan udara dengan menjatuhkan bom ke ambulans di rumah sakit Al Shifa.
Ambulans yang sedang berjalan beriringan membawa korban-korban yang butuh perawatan untuk keluar dari rumah sakit tiba-tiba diserang oleh Israel.
Ledakan dikabarkan terjadi pada pukul 16.30 waktu setempat, Jumat (3/11) kemarin di pintu masuk Rumah Sakit Al Shifa.
Ambulans tersebut sebelumnya direncanakan akan keluar dari Rumah Sakit Al Shifa untuk menuju perbatasan Gaza.
Setelah itu, para korban yang dibawa oleh ambulans-ambulans tersebut akan menyeberangi Mesir dan mendapatkan perawatan di sana.
Dikutip dari Al Jazeera, Menteri Kesehatan di bawah naungan pemerintahan Hamas menyatakan bahwa ledakan dahsyat tersebut memakan 15 korban jiwa dan sekitar 60 orang luka-luka.
Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Al Shifa, Dr. Mohammad Abu Salmiya mengatakan kepada New York Times bahwa 13 orang meninggal dunia dan banyak korban luka-luka.
Ia juga mengungkapkan bahwa para korban yang ikut dalam konvoi evakuasi menuju Mesir selamat, namun mengalami luka-luka.
Tentara militer Israel menyatakan bahwa mereka melakukan penyerangan dengan menargetkan Hamas yang diduga berada di sekitar RS Al Shifa.
RS Al Shifa sudah menjadi pusat krisis dan dugaan sejak awal meledaknya konflik pada (7/10) lalu.
Hal itu disebabkan oleh dugaan tentara militer Israel yang menganggap bahwa Hamas beroperasi di bawah tanah RS Al Shifa.
Meskipun begitu, Hamas sudah membantah dugaan tersebut. Namun, tentara militer Israel masih tetap menyerang RS Al Shifa.
Sehingga, naas, penyerangan pada (3/11) kemarin pun menelan semakin banyak korban, termasuk anak kecil dan perempuan.
Beberapa jam sebelum penyerangan terjadi, juru bicara untuk Menteri Kesehatan, Ashraf al Qudra menyatakan bahwa konvoi ambulans yang membawa korban luka-luka akan menuju ke Selatan, pada pukul 16.00 waktu setempat.
Konvoi ambulans tersebut akan melewati jalan tol Al Rasheed menuju penyeberangan perbatasan Rafah.
Dikutip dari New York Times, Palestine Red Crescent Society menyatakan bahwa konvoi tersebut terdiri dari empat ambulans milik pemerintah Palestina dan satu ambulans bantuan.
Mereka juga menyatakan bahwa barisan konvoi sudah mencapai 4 km ke selatan ketika penyerangan terjadi, sehingga barisan tersebut pun harus kembali.
Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan keterkejutannya terkait penyerangan ini.
Dilansir oleh JawaPos.com dari Al Jazeera, Dirjen WHO tersebut menuliskan di akun X (dulunya Twitter) miliknya bahwa pasien, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, dan ambulans harus benar-benar dilindungi.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Palestina menyatakan bahwa Rumah Sakit Al Shifa kehabisan energi untuk genset listrik mereka dan tidak memiliki persediaan obat-obatan yang cukup.
***