
Ilustrasi kawasan hutan mangrove dan permukiman warga di Kubu Raya. (Antara)
JawaPos.com–Menurut ahli, menurunnya laju deforestasi di negara-negara dengan hutan hujan tropis seperti Malaysia, Indonesia, Kolombia, dan Brasil, dapat membantu upaya bagi perbaikan iklim global dan keanekaragaman hayati. Hutan merupakan ekosistem penting dalam memerangi perubahan iklim, mendukung mata pencaharian, dan melindungi keanekaragaman hayati.
Amazon merupakan hutan tropis terbesar di dunia dengan angka deforestasi yang tinggi. Menurut data dari World Resources Institute, tingkat kehilangan hutan primer tertinggi terjadi di dua negara yakni Brasil dan Republik Demokratik Kongo. Selama 2021 sampai 2022 hutan primer yang hilang mencapai 15 persen di Brasil.
Pemilihan presiden pada Januari 2023 dapat mengembalikan tren untuk mengurangi penurunan deforestasi di negara tersebut. Menteri Lingkungan Brazil mengungkapkan, telah terjadi penurunan deforestasi di Amazon hampir 60 persen pada Juli. Sampai saat ini Brasil satu-satunya contoh negara berhutan tropis terbesar yang mengalami penurunan deforestasi mencapai 84 persen hutan substansial dan berkelanjutan.
Para ahli mengatakan, negara-negara maju harus memberikan dukungan kepada negara tropis untuk membantu menghentikan dan mengembalikan deforestasi pada 2030. Carlos Nobre, salah satu ilmuwan iklim terkenal asal Brasil memperingatkan bahwa Amazon hampir melewati batas krisis dan ada kesempatan yang tepat untuk melindungi hutan dunia.
”Saya dapat melihat gerakan politik yang lebih besar di seluruh dunia untuk mengurangi deforestasi, termasuk Indonesia, beberapa negara di Afrika, dan beberapa negara di Amazon. Di Brasil sendiri, deforestasi mengalami penurunan yang signifikan pada Juni,” ungkap Carlos Nobre, dilansir dari The Guardian, Rabu (9/8).
Carlos juga mengungkapkan jika dibandingkan 2023 telah terjadi penurunan deforestasi hampir 50 persen dibanding 2022. Hal itu menjadi kabar baik apabila ingin mencapai nol deforestasi pada 2030.
Menurut Global Forest Watch (GFW), Indonesia mencapai 64 persen dan Malaysia mencapai 57 persen dalam mengurangi hilangnya hutan primer. Liz Goldman, Senior Geographic Information System Research Manager GFW mengungkapkan, dari data yang ada Indonesia dan Malaysia dianggap telah sukses dalam mengurangi deforestasi sejak terjadi kebakaran pada 2015.
Arif Wijaya, Direktur Program World Resources Institute di Indonesia mengatakan, peningkatan penegakan hukum, restorasi lahan gambut, upaya mitigasi kebakaran, dan larangan pertanian sensitif dianggap cukup berkontribusi pada penurunan angka deforestasi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
