Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Juli 2023 | 05.06 WIB

Uni Eropa Sebut Pembakaran Alquran Adalah Tindakan Provokasi

Foto arsip: Pengunjuk rasa membawa poster saat berunjuk rasa memprotes aksi pembakaran Alquran oleh politikus Swedia Rasmus Paludan, di halaman Mesjid Atsauroh Serang, Banten, Jumat (3/2). - Image

Foto arsip: Pengunjuk rasa membawa poster saat berunjuk rasa memprotes aksi pembakaran Alquran oleh politikus Swedia Rasmus Paludan, di halaman Mesjid Atsauroh Serang, Banten, Jumat (3/2).

JawaPos.com–Uni Eropa (EU) pada Sabtu (1/7) mengatakan, pembakaran Alquran atau kitab suci lain adalah tindakan pelecehan, penghinaan, dan provokasi secara terang-terangan. Pernyataan itu muncul setelah seseorang yang diidentifikasi sebagai Salwan Momika pada Rabu (28/6) membakar salinan kitab suci umat Islam di depan sebuah Masjid di Stockholm.

Penodaan terhadap Alquran itu dilakukan bertepatan dengan Idul Adha.

”Praktik-praktik rasisme, xenofobia (ketidaksukaan terhadap orang-orang dari negara lain), dan intoleransi semacam itu tidak diterima di Eropa,” kata juru bicara EU untuk urusan luar negeri dan kebijakan keamanan Nabila Massrali dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Antara.

Uni Eropa bergabung dengan sikap Kementerian Luar Negeri Swedia dalam penolakan keras terhadap pembakaran Alquran oleh individu di Swedia. Tindakan ini sama sekali tidak mencerminkan pandangan Uni Eropa,” tambah dia.

Massrali menambahkan, aksi tersebut menjadi lebih menyedihkan karena dilakukan pada perayaan penting umat muslim saat Idul Adha. Swedia telah membuka penyelidikan kasus ujaran kebencian yang dilakukan Salwan Momika, seorang warga negara Irak yang membakar salinan Alquran di depan sebuah masjid di daerah Sodermalm, Stockholm.

Polisi Swedia juga telah menjalankan investigasi ujaran kebencian terhadap Momika atas dugaan kasus Islamofobia.

Sementara itu, Ketua Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) menilai aksi pembakaran Alquran yang kembali terjadi di Swedia baru-baru ini, merupakan dampak dari berkuasanya kelompok sayap kanan di negeri nordik itu.

”Swedia sejak tahun lalu dikuasai partai sayap kanan Sweden Democrats. Mereka ini (pandangannya) memang pembenci imigran dan punya tendensi intoleran terhadap Islam, karena itu terulang kembali aksi tidak terpuji tersebut,” kata Gus Falah.

Menurut Gus Falah, Sweden Democrats serupa dengan gerakan ekstremis kanan lain di Eropa, seperti gerakan Neo-Nazi yang memperjuangkan supremasi kulit putih. Mereka itu gemar mengembuskan sentimen kebencian terhadap agama, ras atau etnis tertentu, terutama terhadap kaum minoritas di Eropa seperti kaum imigran, etnis Arab dan termasuk umat Islam.

”Kaum kanan ini, termasuk yang berkuasa di Swedia, kerap menyuarakan kebencian terhadap agama, etnis, dan ras minoritas, sebagai bagian dari upaya menjaga supremasi mayoritas versi mereka,” ujar Gus Falah.

Aksi pembakaran Alquran di Swedia kembali terjadi dilakukan pria pengungsi asal Irak bernama Salwan Momika. Momika mengatakan, pembakaran Alquran itu dilakukan sebagai wujud kebebasan berbicara.

Pembakaran kitab suci umat Islam oleh pengungsi asal Irak tersebut, diketahui merupakan yang kedua pada 2023. Aksi serupa juga pernah terjadi di Swedia pada awal 2023. Pelaku pembakaran merupakan seorang politisi sayap kanan, Rasmus Paludan. Kala itu Paludan menyebutkan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari aksi protes terhadap Turki.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore