Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Oktober 2017 | 18.43 WIB

Hal-hal Menarik dari Kremasi Mewah Sang Raja Thailand

MEGAH: Kereta kerajaan yang membawa guci untuk abu Raja Thailand Bhumibol diarak dalam upacara menjelang prosesi kremasi. - Image

MEGAH: Kereta kerajaan yang membawa guci untuk abu Raja Thailand Bhumibol diarak dalam upacara menjelang prosesi kremasi.

JawaPos.com - Raja Bhumibol Adulyadej alias Rama IX diperabukan dalam ritual agung yang makan waktu seharian kemarin (26/10). Kremasi jenazah pemimpin Kerajaan Thailand yang wafat dalam usia 88 tahun itu berlangsung sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Hari ini (27/10) abu ayahanda Raja Maha Vajiralongkorn tersebut dipindahkan dari Royal Crematorium di Sanam Luang ke Grand Palace.


Banyak hal-hal menarik dari prosesi kremasi mewah tersebut. Sebelum memperabukan jenazah raja yang bertakhta selama 7 dekade 126 hari tersebut, Vajiralongkorn menyalakan api di bawah guci sang ayah sebagai simbol kremasi. Sekitar 40 kepala negara yang menjadi tamu undangan bersama pasangan masing-masing menyaksikan ritual sakral tersebut. Mereka juga berkesempatan memberikan penghormatan terakhir kepada sang raja di depan gucinya.


Selanjutnya, pada kremasi yang sesungguhnya, Vajiralongkorn pula yang menyulut api di atas mezbah kayu untuk memperabukan sang ayah. Sebab, ahli waris takhta Bhumibol itu merupakan satu-satunya anak lelaki sang raja yang tutup usia pada 13 Oktober 2016 tersebut. Tiga saudari Vajiralongkorn, satu kakak dan dua adik, pun menyaksikan segala ritual kremasi itu dan mengikutinya dengan khidmat.


Sejak sore, para tamu undangan sudah memadati Song Dhamma Throne Hall. Di lokasi itulah 119 biksu mendaraskan doa. Pembacaan doa itu diselingi dengan khotbah. Menjelang pukul 19.00 waktu setempat, lokasi tersebut kosong. Para biksu dan tamu undangan berpindah ke Royal Crematorium sesaat sebelum Putri Sirindhorn meletakkan karangan bunga sandalwood alias bunga cendana di dekat guci.


Selain kremasi, ritual yang menyedot banyak perhatian adalah arak-arakan. Di tengah terik matahari, Vajiralongkorn dan seluruh anggota keluarga kerajaan berjalan kaki dari Grand Palace menuju Royal Crematorium. Mereka mengiringi pemindahan jenazah Bhumibol yang ditempatkan dalam peti mati berwarna emas ke Royal Crematorium. Peti mati dan guci abu diusung dengan kereta khusus yang bernama Phra Maha Phichai Ratcharot.


Kereta buatan 1795 itu kali pertama digunakan untuk mengangkut guci tempat abu Raja Somdet Phra Pathom Borommahachanok, ayahanda Rama I. Setelah itu, kereta kayu berhias ukiran tersebut selalu digunakan untuk mengusung guci abu para raja Thailand. Kereta sepanjang 18 meter dengan lebar 4,85 meter itu memiliki berat 13,7 ton. Karena itu, dibutuhkan 216 orang, termasuk 5 sopir, untuk mengendalikannya.


”Ini hari yang sangat penting bagi kami. Saya bersyukur bisa menyaksikan prosesi kremasi raja dari sini,” kata Somnuk Yonsam-Ar. Perempuan 63 tahun itu datang bersama cucu perempuan dan suaminya dari Provinsi Rayong. Mereka tiba di Bangkok pada Rabu dini hari (25/10), kemudian menginap di lokasi yang kemarin menjadi tempat duduk mereka selama prosesi kremasi berlangsung.


Somnuk tidak sendirian. Ada ribuan warga lain yang juga menginap di sekitar Sanam Luang. Alasannya, agar tidak ketinggalan menyaksikan prosesi akbar tersebut. Kemarin polisi menertibkan warga yang menghitamkan trotoar di kanan dan kiri rute Grand Palace sampai Royal Crematorium. Petugas juga mewanti-wanti mereka agar tidak berteriak, ”Dirgahayu Raja,” saat iring-iringan lewat.


Bukan hanya itu, sekitar 250.000 warga dalam balutan pakaian serbahitam tersebut juga dilarang memotret ritual kremasi. Apalagi selfie atau berswafoto dengan latar iring-iringan kereta pengangkut peti sang raja. Jika melanggar, mereka bisa dijerat pasal lese majeste yang hukumannya berat. Yakni 15 tahun penjara. Aturan itu juga berlaku bagi para wisatawan asing.


Berbeda dengan para pendahulunya, Bhumibol minta dimasukkan ke dalam peti saat meninggal. Sebelumnya, sang ibu juga diperlakukan sama saat tutup usia. Padahal, biasanya jasad raja yang meninggal diberdirikan di dalam guci sebelum dikremasi. Kabarnya, Bhumibol menuliskan wasiat yang demikian karena terpengaruh pendidikan Barat. Semasa hidup, dia memang banyak mengenyam pendidikan Barat.


”Ini perpisahan terakhir,” kata Pimsupak Suthin sambil terisak. Penduduk Provinsi Nan itu tidak kuasa menahan air mata ketika menyaksikan arak-arakan. Dia merasa sangat kehilangan sang raja yang dikenalnya selama 42 tahun hidupnya tersebut. Sebab, Bhumibol adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan tidak segan membaur dengan rakyat biasa saat melakukan kunjungan ke daerah. (*)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore