
KEHILANGAN PROTEIN: John Dilgen di rumah sakit.
JawaPos.com - John Dilgen seharusnya bisa menikmati masa ABG bersama teman-temannya. Namun, bocah 14 tahun itu membatasi diri untuk berpergian kemana pun. Kondisinya mengenaskan dan bikin miris.
Anak lelaki dari Staten Island, New York, itu lahir tanpa kulit kaki dan siku tangan kirinya. Dia menderita penyakit yang tidak bisa sembuh. Penyakit yang membuat kulitnya mudah lepas bahkan dengan sentuhan lembut sekalipun. Kulit yang lepas itu akan meninggalkan luka mengangga yang menyakitkan.
Dilansir Daily Mail, John didiagnonis menderita epidermolyosis bullosa (EB). Itu adalah penyakit genetik langka yang memudahkan kulit lecet dan lepas. Bagian tubuh yang kulitnya lepas itu berisiko tinggi mengalami infeks. Hiks...
Jadi, untuk menghindari itu terjadi, sepanjang usianya John dibungkus dengan perban. Tak hanya itu, akibat penyakitnya, John juga mengidap anemia, infeksi kronis, dan hampir meninggal dunia. Saat kali pertama lahir, dokter langsung mendiagnosis John menderita EB. Pasalnya, saat bayi, John terlahir tanpa jari tangan dan kaki, dia juga menderita anemia, serta sulit makan dan menelan.
Mereka yang mengidap EB tidak memiliki kolegen tipe VII. Kolagen tipe itu adalah protein yang memungkinkan bagian atas kulit untuk mengingat bagian bawah kulit. Artinya, gerakan lembut saja bisa membuat kulit lepas.
Penyakitnya membuat John sulit berjalan dan harus menggunakan kursi roda untuk bergerak. Saat ini, John sedang bersiap untuk ke Universitas Stanford. Dia akan menjalani pengobatan eksprerimen. Pengobatan tersebut melibatkan implan DNA di kulit John.
”John sudah kehilangan 60 sampai 70 persen kulitnya. Bagian kakinya sudah penuh dengan luka sampai dia tidak bisa berjalan. Anak kami bertahan hidup dengan obat penghilang nyeri dan dia mandi dengan air yang ditambah cuka serta Clorox demi menghindari infeksi,” kata orang tua John.
Pekan lalu sepupu John Joe Purdy memposting cerita John di YouTube. John mengatakan kalau kondisnya sangat buruk. Apa lagi kalau dia harus mandi. ”Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasanya,” katanya.
Saat ini mereka sedang menanti pemasangan bak mandi oksigen. Dengan bak tersebut, John diharapkan tidak akan merasa sakit saat mandi dan kulitnya akan membaik. Bak tersebut tidak bisa dimiliki keluarga John karena harganya yang mahal. Mereka pun membuka donasi untuk mengumpulkan uang membeli bak beroksigen tersebut.
Beruntung, usaha itu mendapatkan hasil. Target pengumpulan donasi melebihi ekspetasi sampai tiga kali lipat, ”Kami sangat-sangat bersyukur dan berterima kasih,” kata John. (*/tia)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
